Search | Advanced Search

   

  

 
   

Thursday, 02 September 2010
KegiatanV Film Festival 2010

Nia Dinata: Perlu Data Film Maker Perempuan


Jurnalperempuan.com-Jakarta. Kesulitan mencari crew perempuan dialami oleh seorang sutradara perempuan Ariani Djalal. Sebuah tim perempuan dalam proses film juga menjadi kebutuhan Ariani dalam pembuatan film dokumenter perempuan. Hal demikian muncul dalam diskusi Sutradara Perempuan yang diselenggarakan di kantor Yayasan Jurnal Perempuan, Jumat (27/8) petang. Agenda yang dilangsungkan setiap 3 bulan ini dimaksudkan untuk melanjutkan
kegiatan V Film Festival yang telah berlangsung sejak tahun 2008.

“Sedikit sekali perempuan yang memiliki visi yang sama,” ungkap Ariani. Misalnya, Ariani menuturkan, tidak mungkin melibatkan laki-laki dalam tim untuk mewawancarai perempuan remaja yang masih sensitif bercerita tentang masa haidnya.

Berbeda dengan Ariani, Ketty Tressianah dan Anastasia Pradita menceritakan rasa malunya saat mengambil gambar di sekolah homogen. Dua remaja yang tengah menginjak usia 17 tahun ini dengan antusias menceritakan pengalamannya saat mengambil gambar di sekolah yang seluruh muridnya berkelamin laki-laki.

Mendengar penuturan di atas, Nia Dinata mengusulkan agar membuat data nama-nama film maker perempuan berdasar klasifikasi jenis film (Fiksi, dokumenter, film panjang, dan film pendek). Data itu akan diklasifikasi lagi berdasar kelas profesional, remaja, ataupun pemula yang nantinya akan dijadikan small biography.

Di samping itu, setiap karya film dan hak ciptanya juga harus dilakukan pendataan. Nia menambahi, kalau bisa semua crew film yang masuk dalam V Film Festival juga di data dan dikelompokkan ke dalam jenis pekerjaan yang digelutinya. Misalnya, camera person, Sound Person, Editor, Production Assistant, Script Writer, dan sebagainya. Semua ini dilakukan supaya kegiatan V Film yang dilakukan selama ini benar-benar jelas dan profesional.

Sutradara yang akrab disapa teh Nia ini memberikan tips mendapatkan dana untuk memproduksi Film. Hal yang harus dilakukan adalah membuat proposal film standar profesional; menggunakan kata yang benar yang biasa digunakan dalam bahasa film serta menunjukkan kerja keras. Founder menginginkan minimal 80% tim yang memproduksi film adalah perempuan. Selain itu lembaga donor juga memperhatikan adanya kejelasan diversity dalam tim, seperti keberagaman etnis dan agama.

Sambil menyantap makanan berbuka puasa, diskusi dilanjutkan dengan membahas strategi komunikasi agar efisien dan efektif. Dari pembicaraan tersebut disepakati, pertemuan lebih baik diadakan dua kali saja dalam setahun, mengingat kesibukan masing-masing sutradara. Agenda pertemuan pertama disepakati membicarakan konsep V Film selanjutnya. Dan pertemuan kedua diadakan saat V Film Festival berlangsung. Sisanya akan di diskusikan melalui milis V Film dan tidak menutup kemungkinan, pertemuan akan diadakan apabila ada event-event khusus seperti diskusi perempuan dan seminar Film.


(kontributor) Rikky M. Fajar

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search