Search | Advanced Search

   

  

 
   

Wednesday, 03 February 2010
KegiatanMedia

Perempuan dan Kemiskinan dalam Film Dokumenter


Jurnalperempuan.com-Jakarta. In-Docs, lembaga yang fokus menjadikan film dokumenter sebagai sarana mengasah kepekaan masyarakat dan pemerintah atas berbagai aspek kehidupan khususnya sosial dan budaya menggelar pemutaran film dan diskusi “Perempuan dan Kemiskinan,” Selasa (02/02) malam di Goethe Institute Jakarta.

Dua film diputar malam itu. Yakni film Sweeping Addis dari Swiss/Addis Abiba dan Perempuan Girli dari Indonesia. Keduanya mengisahkan tentang perempuan dan kemiskinan.

Film Perempuan Girli karya Rosana Yuditia Ripi diproduksi oleh In-Docs usai workshop dengan para filmmaker muda di Indonesia. Film yang menceritakan kehidupan Sunarti, buruh pabrik biskuit yang terpaksa tinggal di pinggir kali (disingkat Girli-red). Sunarti harus hidup demi menanggung 7 orang anggota keluarganya. Gajinya yang kecil menyebabkan Sunarti harus berhutang dan terus berhutang.

Sementara film Sweeping Addis bercerita tentang 4 perempuan penyapu jalanan di Addis Abiba. Mereka bergelut dengan sapu dan jalanan demi mencukupi kehidupan keluarga mereka dari gaji yang sangat kecil, termasuk jarak antara rumah dan tempat bekerja yang sangat jauh. Rendahnya pendidikan mereka memaksa untuk tak memiliki pilihan lain selain sebagai penyapu jalanan.

Ruth Indiah Rahayu dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan, perempuan hidup dalam lingkaran kemiskinan yang sangat kuat seperti ditunjukkan kedua film tersebut. Menurut Ruth, itu baru sebagian kecil saja cerita dari kehidupan perempuan yang menjadi penyokong utama kehidupan keluarga sekaligus mengurus anak serta harus bekerja keras bahkan terkadang harus berhutang. Lingkaran, Ruth menambahkan, kemiskinan ini terus berlangsung bahkan mungkin banyak perempuan lain seperti pekerja rumah tangga mengalami nasib yang sangat mengenaskan dan lebih parah.

Sementara itu Nan T Achnas sutradara film Pasir Berbisik, Bendera, dan the Photograph, memberikan komentar soal teknis pembuatan kedua film tersebut. Secara teknis, Achnas mengakui, banyak hal harus diperbaiki dalam pembuatan kedua film itu. Film Sweeping Addis, Achnas berpandangan, adanya jarak antara pembuat film dan subyek sehingga detail kehidupan subyek kurang terlihat.

Demikian juga film berjudul Perempuan Girli, Achnas menilik, pembuat film belum mengikuti standar pembuatan film dokumenter -kaidah 5W 1H. Ia menjelaskan, alasan Sunarti membiayai 7 orang dalam keluarganya juga aktivitas 7 orang tersebut yang kurang ditampilkan. Selain itu, Achnas, masalah teknis seperti editing yang kurang memadai dan gambar yang kualitasnya terkadang kurang baik juga menjadi masukan.

Penonton juga memberikan tanggapan menarik dalam diskusi, mulai dari ketertarikan menanyakan tentang distribusi film dokumenter hingga pertanyaan tentang mengapa dan apa alasan pembuat film membuat film yang disajikan di Goethe Selasa malam itu. Sungguh disayangkan pembuat film tak hadir di sana untuk menjelaskan. Pastinya di Indonesia film dokumenter baru saja diperkenalkan -awalnya- di dunia televisi. Beda dengan Amerika yang mulai menyajikan film dokumenter sejak 1930-an sebagai pembuka film fiksi panjang di layar bioskop sehingga masyarakat sudah terbiasa menonton film dokumenter. Sementara di Indonesia film dokumenter masih harus diputar di ruangan khusus atau forum khusus dengan penonton terbatas seperti di Goethe kemarin malam.

Carolina Monteiro

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search