Search | Advanced Search

   

  

 
   

Monday, 08 March 2010
DemokrasiHAMPemberdayaan

Hari Perempuan Internasional 2010:  Mengingatkan Nasib Perempuan di Indonesia


imageHari Perempuan Internasional dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahun. Ini adalah sebuah hari besar yang dirayakan di seluruh dunia untuk memperingati keberhasilan kaum perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial. Di antara peristiwa-peristiwa historis yang terkait lainnya, perayaan ini memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.

Gagasan tentang perayaan ini pertama kali dikemukakan pada saat memasuki abad ke-20 di tengah-tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja. Kaum perempuan dari pabrik pakaian dan tekstil mengadakan protes pada 8 Maret 1857 di New York City. Para buruh garmen memprotes apa yang mereka rasakan sebagai kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah. Para pengunjuk rasa diserang dan dibubarkan oleh polisi. Kaum perempuan ini membentuk serikat buruh mereka pada bulan yang sama dua tahun kemudian.

Di Barat, Hari Perempuan Internasional dirayakan pada tahun sekitar tahun 1910-an dan 1920-an, tetapi kemudian menghilang. Perayaan ini dihidupkan kembali dengan bangkitnya feminisme pada tahun 1960-an. Pada tahun 1975, PBB mulai mensponsori Hari Perempuan Internasional.

Kesadaran tentang Kesenjangan Gender dan Perihal Domestik-Publik

imagePertanyaan selanjutnya dari uraian sejarah Hari Perempuan Internasional di atas adalah: mengapa feminisme membangkitkan kembali peringatan ini di tahun 1960? Adalah kesadaran tentang beban ganda perempuan, yaitu ketika terjadi industrialiasi dan kriris ekonomi mengakibatkan kesenjangan gender yaitu antara perempuan dan laki-laki. Pada awalnya perempuan dan laki-laki bekerja bersama, dan mengurus keluarga bersama, terutama di sektor pertanian. Pada saat industrialisasi, perempuan dirumahkan dan laki-laki bekerja di luar. Urusan rumah tangga menjadi peran perempuan dan mencari nafkah menjadi peran laki-laki. Tetapi karena krisis ekonomi, perempuan terdorong untuk keluar dan bekerja di pabrik, terutama perempuan-perempuan miskin. Namun, keluarnya perempuan ke dunia publik ini bukan serta merta membebaskan mereka dari urusan domestik. Laki-laki tetap tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga, sementara perempuan mengalami beban atau multi ganda, yaitu melakukan reproduksi dan produksi.

Dalam dunia kerja pun, perempuan mengalami diskriminasi, upah mereka lebih rendah dari laki-laki, karena dianggap bukan kewajiban mereka mencari nafkah. Tunjangan-tunjangan juga tidak diberikan, dibedakan dengan laki-laki, karena laki-laki dianggap kepala rumah tangga maka merekalah yang mendapatkan tunjangan keluarga, sementara perempuan dihitung sebagai dirinya sendiri.

Atas hal ini feminisme melakukan kritik awal yaitu pada sektor ekonomi. Dalam Feminis Marxis, tertindasnya perempuan sebagaimana tertindasnya kaum buruh, yaitu mereka tak punya alat-alat produksi, karena semua alat produksi diserahkan pada laki-laki. Perempuan secara ekonomi sangat bergantung pada suami dan ayahnya, sebagaimana buruh sangat bergantung pada pemodal, dan nasibnya sebagaimana buruh, tidak kunjung maju karena tenaganya selalu dianggap murah.

Melalui kesadaran tentang relasi ekonomi berbasis gender yang timpang ini, muncul feminis liberal yang mengatakan pentingnya melakukan perubahan kebijakan. Perempuan-perempuan kelas menengah kemudian berjuang memasuki institusi pendidikan tinggi bahkan sampai di parlemen. Mereka mendorong negara untuk membuat kebijakan yang berpihak pada perempuan sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Dari perjuangan feminis liberal ini kemudian hak sosial perempuan disuarakan secara lantang. Perempuan parlemen di masa itu mulai berani berpolitik, melakukan kampanye untuk mengubah nasih perempuan.

Bagaimana dengan Perempuan Indonesia?

Apa yang anda bayangkan tentang perempuan Indonesia yang adalah separuhnya dari seluruh jumlah warga negara di Indonesia? Apa yang anda lihat secara statistik yang dilakukan mereka? Jangan bayangkan perempuan yang bekerja di kota-kota besar. Kita bayangkan jumlah yang ternyata paling banyak hidup di daerah-daerah, pelosok-pelosok, yang ikut berladang, melahirkan anak, tidak bersekolah, dan astaga! Jumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang meningkat setiap tahun! (Lihat data Buruh Migran Indonesia, jumlah tenaga kerja wanita melonjak setiap tahunnya dibandingkan dengan laki-laki). Dan dari sekian TKW, berapa banyak yang disiksa atau terjebak dalam perdagangan manusia yang diantaranya: mengalami ekspoitasi seksual, eksploitasi kerja, dan bahkan – perbudakan – . Hitunglah dari para TKW ini adakah yang terpelajar atau punya latar belakang pendidikan tinggi? Cek saja, kebanyakan adalah lulusan Sekolah Dasar!

Perempuan Indonesia secara eksodus demikian adanya, dan tak ada alasan lain selain kita harus mengubah nasib mereka, sebagaimana yang terjadi pada sejarah kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya. Bahkan apa yang terjadi di Indonesia lebih mengenaskan lagi. Indonesia adalah termasuk negara dalam level tertinggi Angka Kematian Ibu akibat melahirkan, aborsi yang tidak aman (karena kehamilan yang tidak diinginkan disebabkan kondisi ekonomi), dan karena kelahiran yang tidak tertangani, dan diantaranya adalah karena sulitnya akses pelayanan kesehatan.

Tetapi apa yang terjadi?

Peraturan-peraturan daerah sibuk mengurusi pakaian-pakaian wanita yang seharusnya, di sisi lain para pemangku negara sibuk dengan politik dagang sapi, koalisi ini dan itu, dan korupsi yang semakin hari semakin merajalela, dan ruang politik itu kemudian pindah ke ruang redaksi yang ditayangkan dalam berbagai televisi.

Maka apakah yang harus kita peringati dalam Hari Perempuan Internasional saat ini? Adalah sebuah pernyataan yang betul-betul peringatan, bukan perayaan, bahwa sampai saat ini apa yang telah dicanangkan Millenium Development Goals ibarat ”jauh asap dari panggang”.

Mariana Amiruddin Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan

Mariana Amiruddin *)

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search