Search | Advanced Search

   

  

 
   

Wednesday, 31 March 2010
HIV/ AIDS

50 Juta Perempuan Asia beresiko HIV AIDS dari pasangan intim mereka.


Menurut laporan “Transmisi HIV pada Hubungan Pasangan Intim di Asia”, yang diluncurkan kemarin di Hotel Crowne Plaza, Jakarta oleh UNAIDS dan UNFPA, diperkirakan 50 juta perempuan di Asia beresiko terhadap HIV dari pasangan intim mereka. Laporan ini dipaparkan dan diluncurkan UNAIDS dan UNFPA, dihadiri oleh Linda Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Nasional Penanggulangan AIDS Indonesia.

Dalam sambutannya, Ibu Linda Gumelar, memaparkan kondisi kasus HIV AIDS yang cenderung meningkat di Indonesia, dimana perbandingan perempuan yang terkena HIV/AIDS semakin meningkat pada 2009, yaitu dari 19.973 kasus, 73,07% laki-laki dan 25.8 % perempuan. Para perempuan ini tidak melakukan hubungan seksual beresiko tinggi, tetapi pasangan tetapnya yang mempunyai kebiasaan hubungan seks beresiko.

Menurut Prasado Rao, Direktur Tim Dukungan Regional Asia dan Pasifik, UNAIDS, program pencegahan HIV yang menitik beratkan pada perempuan yang merupakan pasangan dari laki-laki dengan perilaku beresiko tinggi ini, masih belum memperoleh tempat dalam rencana dan prioritas HIV nasional negara-negara Asia.

Penelitian di beberapa negara Asia menunjukkan bahwa 15% dan 65% Perempuan mengalami kekerasan fisik dan atau seksual selama menjalin hubungan sebagai pasangan intim, sehingga mereka semakin beresiko terkena infesi HIV. Budaya patriarki yang kental di negara-negara Asia sangat membatasi kemampuan perempuan untuk negosiasi seks dalam hubungannya dengan pasangan intimnya sendiri.

Penelitian Commission on Aids, melaporkan kurang lebih 10 juta perempuan Asia menjual seks komersial dan setidaknya ada 75 juta lelaki pembeli seks secara reguler. Dari sekian banyak itu masih ada lagi kurang lebih 20 juta laki-laki yang berhubungan seks dengan lelaki dan atau penyuntik narkoba. Mereka semua ini paling tidak separuhnya memiliki pasangan tetap Perempuan. Angka 50 juta didapatkan dari perkiraan model dalam riset yang mencoba melihat dampak dan cakupan penyebaran HIV AIDS di Asia.

Menurut Rosalia Sciortino, seorang ahli kesehatan yang juga lama bekerja di Indonesia, sebaiknya kita tidak terpaku dalam kelompok kunci tertentu saja, tetapi melihat problem HIV AIDS ini sebagai bagian yang integral dalam kesehatan masyarakat yang lebih luas. Kebijakan kesehatan pemerintah harus mengakomodir persoalan HIV AIDS sekarang ini. Melanjutkan itu, Dede Oetomo, seorang sosiolog dan dosen UNAIR, yang mengatakan diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk melihat kembali masalah penyebaran virus HIV ini sehingga kedepannya didapatkan langkah-langkah kerja yang lebih efisien lagi dari berbagai sektor atau departmen yang terkait.

Beberapa rekomendasi dari penelitian ini antar lain, intervensi pencegahan HIV yang ditingkatkan terutama terhadap laki-laki pengguna narkoba suntik dan pelanggan pekerja seks perempuan. Intervensi lainnya juga terkait struktur dalam pelayanan dan program kesehatan seksual dan reproduksi antar department terkait. Kemudian, yang tidak kalah penting, memperkuat intervensi untuk mengurangi kerentanan pada populasi yang berpindah-pindah dan pekerja migran.

Olin Monteiro

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search