Search | Advanced Search

   

  

 
   

Thursday, 25 February 2010
Bencana

Ketika Perempuan Terabaikan


Pagi itu Nandan (58 tahun) seperti biasa berpamitan kepada perempuan yang telah mendampinginya selama 40 tahun. Ia hendak berangkat bekerja ke pabrik teh Dewata yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Nandan dan keluarganya menempati satu dari beberapa barisan bedeng para buruh pemetik teh di Kampung Cimeri, pusat perkebunan teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung.

Belum genap satu jam Nandan mengolah pucuk daun teh, mendadak ia mendengar suara gemuruh. Ia merasa lantai di pabrik terbelah, dan hendak menelan tubuhnya. Sontak bapak dari tujuh anak ini menoleh ke arah tebing Gunung Waringin di utara perkebunan. Ia saksikan gelombang tanah menyerbu ke arah dirinya. Lari keluar dari pabrik menjadi upaya Nandan untuk menyelamatkan diri.

Kali itu, Selasa (23/2) di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Waktu menunjukan pukul 08.00 pagi. Longsor menghampiri tanah perkebunan teh Dewata di wilayah tersebut. Diketahui kemudian, sekitar 60 orang menjadi korban meninggal dalam bencana longsor itu. Diperkirakan, korban meninggal adalah para buruh perkebunan teh Dewata dan keluarganya. Ada 300 orang lainnya yang selamat. diungsikan ke Perkebunan Negara Kanaan di Desa Tenjolaya, sekitar 3 kilometer dari lokasi longsor.

Nandan selamat. Meski demikian, ia terkesiap saat matanya jatuh pada deretan rumah huniannya sejak 40 tahun lalu itu musnah, sisakan onggokan tanah dan material longsoran. Dalam keadaan limbung dan panik, Nandan bertanya kepada tetangga perihal keluarganya.

Tak seorang pun melihat istrinya Otih (50 tahun). Bersukur Nandan masih bertemu keluarganya yang lain, Wahid dan cucunya Fitri. “Saat itulah saya sudah punya firasat, istri saya sudah pergi,” ucap Nandan parau.

Tak hanya Nandan yang kehilangan istrinya, Umar (54 tahun) mengalami nasib serupa. Dari ke -43 nama korban longsor yang tercantum, Umar menemukan Enyi (50 tahun) di urutan ke-11 yang belum dilingkari pada papan nama yang dipasang di masjid Kampung Cimeri. “Itu berarti jenazah istri saya belum ditemukan dalam timbunan longsor,” ungkap Umar lirih dan parau.

Nanda dan Umar adalah sebagian dari masyarakat Kampung Cimeri yang tengah berduka akibat longsor, merenggut istri mereka. Menurut Abrar Prasodjo dari Wanadri, organisasi penggiat isu lingkungan di Bandung, banyaknya bencana alam yang terjadi di mana banyak korbannya adalah perempuan, bisa jadi karena tidak banyak perempuan yang terlibat dalam pengambilan kebijakan. “Ada sesuatu yang menurut saya perlu dipertanyakan secara kritis. Karena umumnya pengambilan kebijakan diambil oleh laki-laki. Padahal yang mereka atur dan buat peraturan serta tata kelola, juga ada perempuan dan anak-anak di sana.”

Bila saja perempuan dilibatkan dalam kegiatan ataupun pengambilan suatu kebijakan, bisa jadi perempuan sanggup menyelamatkan diri, melakukan upaya mitigasi dan adaptasi penanggulangan bencana yang kian mengintai penghuni bumi ini.

Lansir Koran Tempo dan Kompas (25/2)

Nur Azizah

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search