Search | Advanced Search

   

  

 
   

Thursday, 11 June 2009
Media

ABG Bertubuh Sintal Itu!


Video pendek adegan bersetubuh yang tersebar lewat telepon genggam seakan sudah jamak. Cara penggambarannya di media massa membuat kuduk tambah bergidik.

Di sebuah harian nasional yang sudah online tertulis kalimat ini:

Adapun wajah sang remaja putri alias anak baru gede (ABG) terlihat jelas, termasuk saat terlentang di atas kasur dalam posisi berhubungan badan. Meskipun tidak menunjukkan identitas siswi SMA—dalam tayangan video, si gadis mengenakan kaus warna gelap dengan bagian bawah telanjang bulat—wajah ABG berkulit kuning, bertubuh sintal, dan cantik dalam rekaman tersebut dikenali banyak orang.

Duh! Sebagai seorang ayah dengan dua puteri, penggambaran seperti itu oleh sebuah koran "sopan" amat menyentak saya. Iya, lah, juga sebagai lelaki saya dapat membayangkan apa yang tertulis itu, dan tanpa tedeng aling-aling dapat mengakui bahwa penggambaran seperti itu menimbulkan imajinasi erotis. Tetapi ....

Mengapa harus demikian penggambarannya; dan mengapa "tokoh" perempuannya yang perlu digambarkan seperti itu? Padahal bukankah sebenarnya dia adalah korban yang amat memerlukan perlindungan? Itu, lah, yang paling mengganggu pikiran saya. Dan ini amat-sangat mengganggu.

Masyarakat memang terkadang adalah "mahluk" yang amat mengerikan. Sudah barang tentu, masyarakat juga adalah kumpulan sebuah kesepakatan. Cara masyarakat memberlakukan perempuan muda yang sedang sial terpampang di layar telepon ketika menikmati persetubuhannya, memperlihatkan bagaimana masyarakat itu memandang perempuan secara umum.

Apa yang membuat wartawan merasa perlu menggunakan kata ABG, "sintal" dan "cantik" di satu tarikan nafas (mungkin nafas yang memburu!) merupakan bukti bahwa perempuan adalah objek imajinasi yang menghibur. Itu karena perempuan belia itu, yang sebenarnya punya hak penuh menikmati tubuhnya sendiri, sedang sial. Sedang tereksploitasi tanpa izinnya.

Kesialan perempuan itulah yang amat menghibur, rupanya!

Apakah saya menyetujui hubungan seks yang dilakukan perempuan belia itu? Saya tak mau berdebat tentang ini, sebelum kita sepakat bahwa cara koran —dan masyarakat pada umumnya— memberlakukan perempuan yang sedang sial itu amat tak beradab. Saya tak mau berdebat dengan masyarakat yang sedang menistakan perempuannya.

Berapa sebenarnya usia yang pantas bagi seorang perempuan untuk menikmati seks? Ah, ini pertanyaan yang jadi absurd ketika koran —dan masyarakat pada umumnya— terhibur oleh kesialan salah satu perempuannya. Saya jadi ingin berkata bahwa tingkat kemunafikan masyarakat sudah demikian tingginya.

Iinilah sebuah masyarakat yang ingin memiliki standar tentang seksualitas sambil menindas kaum perempuannya.

Jadi ...

Jadi, apa persoalannya? Apakah berhubungan seks itu jorok? Apakah tampil di layar telepon dalam keadaan terengah-engah menikmati seks itu buruk? Apakah ditonton oleh puluhan juta anak-anak sebaya tanpa izin si pelaku hubungan seks itu haram?

Menurut saya persoalannya tak satu pun dari yang di atas itu. Menurut saya persoalannya adalah pada cara kita memberlakukan perempuan-perempuan di sekitar kita; yang berusia muda maupun yang sudah renta. Selama perempuan adalah objek hiburan —bahkan ketika sedang sial dangkalan— selama itulah kita sebenarnya tak patut, tak berhak, tak sopan, tak beradab, bicara tentang seksualitas perempuan.

Saya menengok ke dua putri saya dan berharap (sepenuh hati dan jiwa) agar mereka dapat mendamprat siapa pun yang bicara, berpikir, atau (apalagi) berbuat tak hormat kepada tubuh mereka.


Putu Laxman Pendit

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:


Saya setuju dengan pernyataan anda bahwa tingkat kemunafikan masyarakat sudah demikian tingginya.Mereka mengutuk dan menistakan perempuan korban sembari ikut menikmati tulisan erotis tentang si korban di media massa plus menonton videonya. Sama sekali tak ada komentar tentang si laki-laki, bahkan mungkin wajahnya pun sengaja tak direkam.

Komentar oleh  on  06/12  at  02:52 PM

saya merasa bergidik dgn kesialan gadis muda itu. benar seperti anda katakan, berapa batas usia seorang gadis muda utk menikmati seks ? dan mengapa harus menjadi tolak ukur kesopansantunan dlm berhub sex ? sistem masyarakat kita memang MUNAFIK ! baik berjenis laki laki maupun perempuan sendiri. kemunafikan itu datang dari para laki2 yg ikut mengeksploatasi sebagai bgn erotisnya, para ibu yg td mendidik putri2nya utk bersikap dan menghargai tubuhnya , jg td membekali pengetahuan seks bagi remaja putrinya, selain hanya melarang.  sy setuju jk putraputri sy ingin menikmati seks, pesan sy hanya jangan sampai hamil dan td dieksploitasi. itu tubuhnya dan itu hak dasarnya sebagai manusia utk menikmati tubuhnya sendiri! krn seks adlh pilihan bebas dg resiko yg bs diminimalkan.
sy hny mendidik putra/i sy utk bersikap lbh tegas (menghajar sekalian) pd siapapun yg td menghormati haknya atas tubuhnya sendiri. aplg sampai mengeksploitasi. sy td segan2 utk turun tangan membela mrk.
sistem masyarakat kita dualisme dan munafik. bhkn sebenarnya para perempuan yg ikut andil dalam menciptakan kemunafikan itu. krn pada dasarnya perempuan Indonesia belum mandiri dan berwawasan luas, bhkn blm terdidik dengan baik ! paham patriarkat dlm masyarakat siapa yg mendukung ? para perempuan ! kebanyakan perempuan belum memahami hak2nya sendiri. dan bgmn org yg belum mengerti haknya sendiri dapat bersikap atas hak itu sendiri ? selain mengekor dan mencari aman krn ketidakmandirian mereka, maka mereka ada dibelakang para laki2 yg sadar td sadar menuntut kepatuhan mereka, utk mendukung gengsi dan arogansi kelakian mrk dg imbalan hidup yg terjamin dan aman. karena banyak perempuan memilih jalan pintas dg menikah bkn krn pilihannya tp semata2 krn faktor ekonomi. sebenarnya ini pengkhianatan perempuan terhadap perempuan sendiri yg td kompak, seperti membiarkan dirinya menjadi istri kedua/ketiga, dstnya. itu kesalahan terbesar dari perempuan, mengkhianati kaumnya sendiri. jadi hanya perempuan tertentu yg terlahir sebagai perempuan yg kuat dan mandiri. mengapa ? karena generasi diatas kita msh menganut paham patriarkat dg kentalnya, jd jika ada perempuan2 yg mampu memiliki sikap, mandiri dan terdidik, itu berarti memiliki genetika yang special, krn ia bisa melihat perspektif gender itu dg baik dan bisa mengeluarkan dirinya sendiri dari kotak gender diskriminatif itu ! jika ayah ibunya seorang yg kuno konventional dgn paham patriarkat yg kuat, bgmn ia bs lolos menjadi dirinya sendiri, yg kuat, mandiri dan terdidik jika bukan krn dari dalam dirinya ada salah satu gen yg mendukung dirinya seperti itu ? dan gen2 itu tidak semua dimiliki semua perempuan. kesadaran Kartini adalah krn memiliki gen itu, namun ia td memiliki gen yg lbh kuat utk keluar dari sistem yg sd diciptakannya. hanya perempuan yang kuat, punya sikap, mandiri dan terdidik mampu menjadi dirinya sendiri seutuhnya. dan perempuan itu tidak akan mengkhianati kaumnya bhkn akan menularkan sikapnya pada perempuan lain agar belajar menjadi dirinya sendiri. tidak mudah tp dimulai dari lingkungan kecil seperti pada putra putrinya lebih dahulu.

Komentar oleh  on  06/14  at  09:49 AM

memang betul,
keprihatinan atas kejadian ini, mengawali nya terlebih dahulu dari yang terkecil.
Tanamkan rasa itu pada keluarga kita terlebih dahulu, orang terdekat dan selanjutnya sekitar…
miris memang penyalahgunaan teknologi jaman sekarang.

Komentar oleh  on  06/16  at  05:21 AM

Halaman ke 1 dari 1 halaman

Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search