|
Friday, 09 December 2005
Budaya •
Adat Memenjarakan Perempuan Buru
Jurnalperempuan.com-Yogyakarta. “Sejak kecil anak-anak perempuan itu sudah ‘dibeli’, mereka bahkan ada yang sudah dibeli sejak di kandungan. Karenanya saya enggan mengajar pada mereka anak-anak ‘koin’ itu sebab terasa sia-sia. Mereka pasti tidak akan sempat untuk terus belajar karena sudah akan diminta oleh keluarga yang membelinya atau Paitua-nya [suami] begitu tubuhnya terlihat sudah ‘matang’...,”ujar Ibu Nana, “guru” suku asli anak Buru. Cerita itu disampaikannya dalam acara pemutaran film dan peluncuran buku “Seribu Impian Perempuan Pulau Buru” di Toga Mas Yogyakarta, Jumat (2/12).
Acara dimulai dengan pemutaran film dokumenter “Impian Siska”. Film ini menceritakan kisah Siska, anak perempuan Buru di sekolah darurat yang didampingi oleh JRS, tempat Ibu Nana mengajar. Saat bersekolah, Siska dan teman-temannya selalu tertawa riang. Namun, keceriaan anak-anak perempuan koin itu akan segera sirna begitu mereka akan diambil oleh “pembelinya”.
Siska sendiri ingin menjadi bidan. Tidaklah mengherankan mengapa Siska mempunyai cita-cita seperti itu. Dalam keluarga, perempuan-perempuan Buru tidak boleh mengeluh dan memperlihatkan wajah kesakitan atau kelelahan. Mereka harus melahirkan anaknya sendirian di rumah kecil yang jauh dari kampungnya. Mereka diperbolehkan melahirkan di rumahnya sendiri, namun selama proses persalinan itu tidak boleh ada suara yang terdengar oleh orang lain. Sang ibu itu harus membersihkan sendiri bayi dan dirinya juga tempat persalinannya. Setelah itu, ia akan membawa anaknya ikut mencari sagu dan kasbi (ketela) untuk keluarganya dengan menyusuri sungai, menaiki dan menuruni bukit, tanpa mengeluh. Wanita harus kerja keras karena keluarga paitua atau paitua-nya sudah membelinya dengan sangat mahal. Siska barangkali memiliki sedikit harapan untuk bisa sekadar membaca, menulis, serta menghitung sebelum akhirnya ia dibeli juga.
Dalam acara itu, Maria Hartiningsih turut memaparkan permasalahan-permasalahan reflektif dari pembacaannya atas buku ini. Ia menyimpulkan, “To be born as female (in Buru) is a crime”. “Pendidikan” adat telah memenjarakan nasib-nasib perempuan Buru ini. Hal yang sama juga dialami oleh perempuan-perempuan di hampir semua komunitas adat yang patriarkis di dunia. Permasalahan isu hak-hak komunitas adat di ranah internasional hingga kini ternyata masih didominasi oleh kelompok elite dan patriarkis. Representasi mereka yang memperjuangkan hak-hak adat pun patut dipertanyakan karena mereka sudah jarang dan bahkan tidak tinggal di komunitas adat yang mereka wakili.
Di sisi lain, komunitas adat dan suku asli adalah korban yang sering kali mendapatkan hukuman ekstra dari sistem peradilan negara, dipenjarakan tanpa pengadilan, penyiksaan, pengusiran dari tanahnya secara paksa, dan menerima berbagai bentuk diskriminiasi, khususnya dalam sistem administrasi pengadilan dan pemerintahan. Dalam kasus administrasi pemerintahan ini, Ibu Nana menceritakan bagaimana dia harus menyiapkan kelengkapan persyaratan-persyaratan akademisnya agar bisa mendapat sertifikat mengajar dan diangkat menjadi guru negeri. Hal itu tentu saja tidak akan pernah dimilikinya sehingga kini status “guru”-nya hanya diterima oleh anak didiknya. Namun, Ibu Nana sudah cukup bahagia bila anak didiknya berhasil ia kirim ke sekolah negeri terdekat, yang jaraknya biasanya 3-5 kilometer naik-turun bukit.
Maria memaparkan bahwa di berbagai tempat mereka, kaum komunitas adat ini, selalu kekurangan akses terhadap hak-hak sosial dasar seperti hak atas kesehatan, makanan, pendidikan, dan tempat tinggal yang layak. Hak-hak mereka terus-menerus disangkal oleh negara. Misalnya, dalam daftar BPS pemerintah setempat, orang Buru adalah orang “asing” di tanahnya sendiri. Keberadaan mereka tidak diakui. Yang terdaftar hanyalah orang Bugis, Maluku, Jawa, Cina, dan Arab. Orang buru sendiri dimasukkan dalam kategori “lain-lain”. Selain negara, dalam adat yang patriarkis, perempuan seringkali harus menerima perlakuan yang sama dari komunitas adat mereka sendiri. Dalam hal ini, pendidikan merupakan awal dari revolusi sosial.
Jurnalis Kontributor :A. Budiyanto
KOMENTAR MASUK:
|