|
Sunday, 24 May 2009
Budaya •
Media •
Belajar Sejarah Peradaban Perempuan dari Cina
Jurnalis:
Hari Sabtu tanggal 23 Mei 2009 yang lalu, YJP kedatangan tamu seorang akademisi feminis, Asisten Profesor Sherry Mou, seorang dosen dari University DePauw, Indiana, USA, yang telah menuliskan sebuah buku yang mendokumentasikan sejarah perempuan Cina melalui biografi tentang kehidupan perempuan sepanjang 1000 tahun. Kedatangan beliau disponsori oleh Bapak Shia Ka Mou, seorang pengusaha yang juga akademisi dan aktif dalam diskusi-diskusi sosial politik.
Prof Sherry dalam bukunya, ”Gentlemen Prescription of Women’s Live” (Biografi Perempuan Cina Seribu Tahun), menguraikan hasil penelitian doktoralnya tentang biografi klasik yang ditulis oleh para penulis kerajaan Cina (sejarawan dan dokumentator kerajaan) dari dinasti ke dinasti kurang lebih 2000 tahun lalu.Biografi tersebut bukanlah biografi lengkap dari para perempuan Cina tersebut, tetapi lebih pada potongan cerita-cerita tentang beberapa karakter perempuan dan juga kejadian khusus yang terjadi pada waktu itu seputar kehidupan perempuan.
Prof Sherry memaparkan hasil penelitiannya itu dengan membandingkan biografi lengkap karya Liu Xiang, seorang sejarawan Cina yang juga keluarga kaisar Cina pada masanya dengan biografi perempuan lainnya dari Dinasti ke Dinasti, yang lebih sedikit. Liu Xiang adalah pelopor biografi perempuan dan menuliskan biografi pendek dari 100 orang perempuan Cina yang tercatat dalam kehidupan kekaisaran Cina waktu itu. Liu membagi chapternya dalam 7 karakter perempuan yang cukup inovatif sebagai pelopor dalam biografi perempuan. Dalam karya Liu Xiang, perempuan digambarkan sebagai ibu, istri, anak dan atau janda, tetapi mereka juga punya banyak kelebihan, cerdas, punya kebijaksanaan, skill yang tinggi, berkesenian dan bahkan bisa jadi negosiator yang dapat dibanggakan. Beberapa istri kaisar atau empress bahkan dianggap mampu mempengaruhi kebijakan dari seorang kaisar dan menjadi penasihat penting.
Pada masa setelah Liu, Ban Zao, seorang sejarawan perempuan, putri dari seorang sejarawan terkenal di Cina. Beliau menuliskan ”Admonition of Women”, sebuah biografi perempuan yang berlandaskan asas penting confucianisme yaitu prinsip yin dan yang, dimana yang adalah superior dibanding yin (yang notabene menunjuk pada kekuasaan laki-laki dan perempuan). Biografi ala Ban cukup bagus menonjolkan pentingnya pendidikan bagi perempuan walaupun disisi lain, Ban melanggengkan stereotip perempuan Cina pada masa itu, yang harus suci, murni, anggun, lembut, setia dan menjaga perilaku sesuai keinginan masyarakatnya/laki-laki. Dalam bukunya ini, perempuan dicitrakan dengan semua yang positif dan baik, tidak boleh ada cacat atau kejelekan apapun, karena kekaisaran terus melanggengkan posisi perempuan yang patuh dan domestik.
Melihat dari pemaparan Prof Sherry, terlihat bahwa pendokumentasian kehidupan perempuan menjadi sangat penting, seperti beliau paparkan tentang teori Great History atau Sejarah Besar yang kebanyakan ditulis oleh pujangga atau sejarawan lelaki, sehinggga pengalaman perempuan hanya masuk dalam Little History atau sejarah yang sampingan, yang disebut di keseharian tetapi tidak masuk dalam pakem besar pemikiran dari suatu negara. Penting perempuan juga berpartisipasi menulis sejarahnya dan masuk dalam sejarah besar itu.
Cina sudah memiliki sejarah menulis (tertulis/dokumentasi tulisan) semenjak 4000 tahun lalu, sehingga pendokumentasiannya yang sangat komprehensif memberikan peluang bagi sejarawan berikutnya untuk meneliti perubahan sosial politik suatu negara dan bahkan strategi bagi kemajuan negara itu.
Walaupun posisi perempuan sebagai seorang ibu atau istri, masih lebih dominan dalam biografi 1000 tahun tersebut, tapi kebudayaan Cina sangat menjunjung perempuan sebagai guru atau pendidik yang penting dalam kehidupan manusia. Dimana perempuan lah yang menjamin agar seorang pemimpin bangsa itu bisa menjadi pemimpin yang bijaksana dan berbobot tinggi. Pendidikan di Cina berhutang pada kontribusi perempuan bagi perbaikan bangsanya, sebagai raksasa ekonomi yang disegani sekarang ini.
Olin Monteiro
KOMENTAR MASUK:
walau terlambat tap sy tertarik untuk menanggapi. berbicara tentang perempuan Cina pd masa kekuasaan dinasti2 di Cina, sy sepakat bahwa opresi patriarki terhadap kaum perempuan begitu kuat. hari ini perempuan Cina di Indonesia tidak lagi megalami hal yang serupa.Pergeseran nilai patriarki tidak lagi membuat perempuan Cina di Indonesia teropresi. Hal ini dibuktikan dengan kiprah kaum perempuannya di berbgai ranah publik. Bahkan tak jarang perempuan Cina dari kelas atas terkesan lebih berkuasa atas laki-laki yang notabenenya berasal dari kelas yang lebih rendah
Komentar oleh
on 06/16 at 03:36 PM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|