Search | Advanced Search

   

  

 
   

Friday, 05 February 2010
Pemberdayaan

Bidan, Potensial Turunkan AKI


Jurnalperempuan.com-Jakarta. Perjuangan bidan di desa patut mendapat acungan jempol. Ini bukan sekedar ungkapan semata, melainkan upaya nyata para bidan demi meraih kepercayaan masyarakat setempat sebagai suatu tindakan menurunkan angka kematian ibu (AKI).

“Kebiasaan setempat, anak usia kurang dari tiga bulan tidak boleh keluar rumah. Akibatnya banyak bayi tidak mendapat imunisasi,” ujar Husniar, salah satu bidan dari desa Jorong Siguntur, Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Sementara Siti Aminah, bidan dari Desa Loa Janan Ulu, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur menuturkan, masyarakat setempat lebih percaya dan memilih kepada dukun yang juga bisa mengusir “roh halus.” Hingga satu hari seorang anak dibawa ke puskesmas setelah dukun tak berhasil menyembuhkan anak itu. Walhasil, masyarakat setempat mulai percaya kepada Siti Aminah.

Siti Aminah termasuk salah satu bidan yang harus berhadapan dengan persoalan budaya setempat di desa tempatnya bertugas. Demikian juga Yuninda Asih Wilangsari, bidan yang sejak tahun 2000 membuka praktik di Sendangguwo, Kelurahan Gemah, Semarang. Terdapat 30 orang mengalami anemia dari 50 ibu hamil di tempatnya beraktivitas. Kondisi tersebut terkait dengan pola dan kebiasaan keluarga. “Bapak diutamakan saat makan, anak dapat sisa dari bapak, dan ibu belakangan sekali,” papar Yuninda.

Husniar, Siti Aminah, dan Yuninda Asih Wilangsari adalah tiga dari 10 bidan yang mendarmakan pengetahuan dan kemampuannya bagi sesama perempuan. Melalui berbagai cara yang berbeda, mereka mulai mengambil perannya dengan melakukan berbagai pendekatan mulai dari belajar dengan dukun setempat sampai mengajak perangkat desa setempat untuk ikut terlibat menurunkan angka kematian ibu (AKI).

Indonesia masih menempati urutan tertinggi di ASEAN untuk angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). AKI masih sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara angka kematian bayi (AKB) sebanyak 34 per 1.000 kelahiran hidup.

Pemerintah pun mulai gerah dan mengatur strategi untuk mundur dari urutan tersebut. Demi mencapai Millenium Development Goals (MDGs), pemerintah Indonesia menargetkan AKI sebanyak 102 dan AKB 23 di tahun 2015.

Persoalan lain pun mengemuka. Kajian pengajar Ilmu Ekonomi Universitas Gajah Mada Elan Satriawan dan kawan-kawan, bekerjasama dengan Bank Dunia, menunjukkan, antara tahun 1996 dan 2006 ada kenaikan dari 35 menjadi 37 bidan per 100.000 penduduk. Dengan perbandingan bidan di desa jauh lebih banyak dibanding keberadaan bidan di perkotaan.

Kendati demikian, perbandingan antara bidan dan jumlah penduduk di Jawa dan Bali lebih rendah dari di luar Jawa dan Bali. Sedangkan di Jawa-Bali, rasio bidan dan jumlah penduduk pedesaan menurun, sebaliknya meningkat di wilayah perkotaan. Rasio penurunan bidan di perkotaan juga terjadi di luar pulau Jawa, Bali, dan Sumatera.

Lansir dari Kompas (05/02)

Nur Azizah

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search