|
Saturday, 31 January 2004
Anak •
Seksualitas •
Kesehatan Reproduksi •
Dalam Kondisi Darurat, ASI Menjadi Lebih Penting
Jurnalis : Eko Bambang S
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Dalam keadaan darurat, pemberian ASI pada bayi lebih sehat untuk di beri ASI dibandingkan dengan pemberian susu formula. Menyusui dalam kondisi ini menjadi lebih penting, sebab susu formula dalam kondisi darurat menjadi tidak aman dikarenakan minimnya ketersediaan air bersih, sulitnya mendapatkan api untuk memasak air bersih dan kesinambungan susu formula yang tidak terjaga menjadikan susu formula justru kurang baik bagi bayi. Bahkan susu formula dalam keadaan darurat justru akan menaikkan penyakit diarrhea, Malnutrisi dan bahkan kematian bayi.
Demikian penjelasan dr. Utami Roesli dari Sentra Laktasi Indonesia yang disampaikan dalam diskusi tentang “Pemberian Makan Bayi Dalam Situasi Darurat” yang diselenggarakan oleh Sentra Laktasi dan Direktorat Gizi Depkes RI di Jakarta, Kamis, (27/01/05).
Pentingnya pemberian ASI ini juga mendapat rekomendasi dari sejumlah badan dunia seperti Unicef, WHO dan IDAI yang memberi rekomendasi untuk tetap memberikan ASI sampai anak umur 2 tahun atau lebih. Badan dunia ini juga melihat bahwa pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain baik untuk ibu, ASI juga menggandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya. Pada bayi umur 6-12 bulan, badan dunia ini juga masih melihat ASI sebagai makanan utama bayi, kerena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Namun, pada usia ini guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI.
Tidak direkomendasikannya pemberian susu formula bagi bayi sebagai pengganti ASI, tentu menimbulkan sejumlah masalah terutama bagi ibu-ibu yang akhirnya tidak sanggup untuk menyusui, seperti ASI yang tidak keluar dan sebagainya. Dalam laporan investigasi Tim Yayasan Jurnal Perempuan di Banda Aceh misalnya, ditemukan sejumlah peristiwa seperti seorang ibu akhirnya pingsan setelah menyusui karena sang ibu tidak ada pasokan gizi atau seorang ibu akhirnya tidak bisa memberi ASI karena memang ASInya tidak keluar.
Berkaitan dengan masalah yang muncul pada ibu-ibu yang tidak bisa mengeluarkan ASI, sejumlah badan dunia seperti Unicef, WHO dan IDAI memberi beberapa rekomendasi bahwa dalam keadaan darurat susu formula bisa dilakukan dengan sangat terbatas dengan catatan telah dilakukan penilaian terhadap status menyusui dari ibu, dan relaktasi tidak memungkinkan. Susu formula diberikan hanya kepada anak yang tidak dapat menyusu, misalnya anak piatu. Bagi bayi piatu dan bayi yang ibunya tidaklagi bisa menyusui, persediaan susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkannya. Badan dunia ini juga menekankan bahwa pemberian susu formula diupayakan dibawahsupervisi dan monitoring yang ketat oleh tenaga kesehatan terlatih. Selain itu, Badan dunia juga menekankan bahwa untuk mengurangi bahaya pemberian susu formula, beberapa hal yang harus dipenuhi seperti menggunkan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan. Tidak diperkenankan untuk menggunakan botol susu, dan juga tersedianya alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya.
KOMENTAR MASUK:
|