Jurnalperempuan.com-Jakarta. Tanggal 23 Juli masyarakat memperingatinya sebagai Hari Anak Nasional. Berbagai kegiatan diadakan sebagai bentuk kepedulian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Salah satunya penelitian yang dilakukan dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo. Melalui tema “Kekerasan, Seks, Mistik dan Moralitas dalam Sinetron Remaja Indonesia” para pengajar tersebut mencoba mencermati tayangan sinetron remaja yang seringkali menjadi standar bagi remaja saat ini. Hasil penelitian tersebut disampaikan dalam diskusi ilmiah bertema “Selamatkan Masa Depan Anak Indonesia dengan Tayangan Televisi yang Lebih Bermutu,” Kamis (23/7) di kampus Moestopo.
Tim peneliti menyebutkan, total jam tayang/ hari tayangan sinetron baik serial maupun lepas adalah 249 jam dengan rata-rata menonton 2,7 jam. Berdasar sinetron yang diteliti, banyak menampilkan kisah tanpa muatan sosial dan diperankan oleh mereka yang masih anak-anak hingga remaja. Tak urung potret kekerasan juga diperankan oleh anak-anak dalam sinetron yang menghiasi layar kaca kita. Menilik dari kondisi tersebut –dalam pointers yang disampaikan dalam diskusi tersebut- mengatakan, anak tak ubahnya miniatur orang dewasa dalam melakukan kekerasan. Tidak itu saja, perilaku seks orang dewasa juga banyak dilakukan oleh anak-anak yang kelihatan cukup matang terkait dengan relasi personal. Anak-anak itu terlihat “harus” memiliki pacar atau pasangan.
Selain menayangkan model kekerasan psikologis yang banyak dilakukan remaja, sinetron juga kerap menampilkan perempuan sebagai mayoritas pelaku kekerasan psikologis sekaligus sebagai korban. Sementara laki-laki banyak ditampilkan sebagai pelaku kekerasan fisik.
Tim peneliti menemukan adanya muatan kekerasan dalam sinetron remaja rentang 2008 yang tidak terlalu ramah bagi khalayak remaja kita. Yaitu kekerasan, seks dan mistik yang disebutkan tim peneliti sebagai muatan antisosial. Pun dengan Setting keluarga yang digambarkan dalam sinetron justru berpotensi menjadikan kekerasan sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan dalam lingkungan keluarga (baik kekerasan psikologis atapun fisik) dan berpeluang membolehkan KDRT.
Tayangan sinetron di televisi sudah cukup lama mengganggu sebagian masyarakat. Namun apakah masyarakat sadar bahwa tayangan yang sangat mereka nantikan berdampak pada perkembangan anak-anak mereka? Solusinya, mendampingi anak-anak anda saat menyaksikan tayangan televisi dan berikan informasi atas perilaku kekerasan yang masih saja hadir di layar kaca.
Nur Azizah
sangat disayangkan sinetron-sinetron yang ada di televisi sekarang ini hampir semuanya berisi tentang perebutan harta, kebencian, kemarahan, dan nilai-nilai negatif lainnya. Bisa dikatakan sangatlah picisan. tidak ada moral value yang baik yang bisa diambil dari tayangan sinetron2 sekarang ini.
Dulu, sebelum sinetron sebegitu booming seperti sekarang ini, sangatlah membumi dan lebih memberikan gambaran-gambaran wajah Indonesia dengan kesederhanaan. Dan para bintang sinetronnya pun benar-benar asli wajah Indonesia.
Harus ada lembaga khusus yang memberikan screening atau sensor yang ketat terhadap film2 sinetron.
Beruntunglah film-film layar lebar yang sudah mulai bangkit lagi, moral value-nya benar-benar bisa diambil secara positif.
Kalau bisa tayangan sinetron dikurangi setengahnya di setiap televisi-televisi swasta yang doyan menayangkan program2 sinetron.
Lebih baik memperbesar porsi tayangan2 seperti mengenai Alam Indonesia, Budaya Indonesia, Sejarah Indonesia, Makanan Indonesia, dan lainnya.
Komentar oleh
on 09/12 at 05:37 PM