Search | Advanced Search

   

  

 
   

Thursday, 05 August 2004
Anak

Dunia Pariwisata Dapat Mencegah Perluasan Eksploitasi Seksual Anak


Jurnalis : Sofia Kartika

Jurnalperempuan.com - Jakarta. Komitmen dunia pariwisata diharapkan dapat mencegah perluasan eksploitasi seksual terhadap anak. Komitmen dari dunia pariwisata dianggap perlu karena eksploitasi seksual anak yang membawa anak ke dunia prostitusi, salah satunya adalah karena efek aktivisme kepariwisataan, misalnya yang terjadi di Bali, Jakarta dan Batam. Demikian salah satu poin yang dibahas pada seminar “Pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Lingkungan Pariwisata” di Jakarta (Kamis 5/08/04).

Irwan Hidayana, Dosen Antropologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa “salah satu faktor yang mendorong perkembangan pariwisata adalah adanya kebutuhan manusia akan rekreasi dan hiburan. Sementara itu, perwujudan dari tuntutan itu diwujudkan dalam bentuk hotel, diskotik, cafe, pub, panti pijat, tempat wisata dan sebagainya. Dalam kebutuhan rekreasi ini tidak terbatas pada musik, makanan, minuman dan cinderamata, tetapi juga memenuhi kebutuhan seksual. Dalam konteks inilah dunia pariwisata secara langsung maupun tidak langsung mendukung berkembangnya pelacuran untuk memenuhi kebutuhan seksual,”ujar Irwan.

Irwan juga menyinggung bahwa perkembangan prostitusi dalam dunia pariwisata ini juga didorong oleh kebijakan pembangunan yang tidak merata di semua wilayah suatu negara. “Perkembangan ekonomi yang pesat di kota-kota, menjadi daya tarik penduduk pedesaan untuk berimigrasi, sehingga tidak mengherankan bila sebagian besar pekerja seks diperkotaan dan daerah tujuan wisata berasal dari pedesaan. Hal ini terjadi menurut Irwan karena tidak semua migran, apalagi migran perempuan berhasil mendapat pekerjaan layak di perkotaan dan daerah wisata karena banyak yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki ketrampilan yang disyaratkan. Akhirnya sebagain dari mereka masuk dunia prostitusi melalui jaringan tertentu untuk ditempatkan di sejumlah hotel, panti pijat, diskotik yang sebagain besar merupakan tempat pendukung pariwisata,“ kata Irwan

Untuk menumbuhkan komitmen dalam mencegah ekspolitasi seksual anak ini Irwan mengusulkan untuk hendaknya dilakukan koordinasi antara elemen-elemen di dunia pariwisata dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan, Depnaker, Depdiknas dan sektor lainnya. Koordinasi antar sektoral ini akan memudahkan dalam rangka preventif eksploitasi seksual anak. Juga diperlukan kebijakan baik yang bersifat pusat maupun peraturan daerah, yang mengatur tindakan hukum terhadap jasa pariwisata yang menyertakan sex tourism (yang melibatkan anak-anak) di dalamnya.

Sementara Agus dari JARAK, lembaga yang peduli pada hak-hak anak, mengatakan peran individu-individu di hotel seperti pegawai hotel atau tempat-tempat hiburan sebenarnya dapat berperan untuk membantu memberikan informasi mengenai sindikat-sindikat mafia penyedia anak-anak untuk kebutuhan seksual.

Acara yang menghadirkan berbagai komponen dari kegiatan pariwisata ini diharapkan juga sebagai langkah awal kampanye mengenai hak anak serta masalah trafiking di dunia pariwisata.

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search