|
Thursday, 25 June 2009
Kegiatan •
Politik •
Gerakan Perempuan Desak 8 Agenda untuk Capres-Cawapres terpilih
Gerakan Perempuan Desak 8 Agenda untuk Capres-Cawapres terpilih
Jurnalis : Nur Azizah
Pemilihan Presiden (Pilpres) tinggal 13 hari lagi. Berbagai atribut kampanye pun telah meramaikan sepanjang ruas jalan di ibukota. Bahkan media visual tak henti menayangkan iklan dan debat pasangan capres-cawapres, walaupun banyak dikritik karena hanya menampilkan dagelan politik, tanpa visi misi pasangan calon pemimpin negeri ini. Hal ini menjadi perhatian dan keprihatinan gerakan perempuan hingga berujung pada pertemuan para pemimpin perempuan dari 45 organisasi nasional maupun daerah. ”Dari pertemuan tersebut kita sepakat untuk menetapkan 8 agenda prioritas bagi pemenuhan hak-hak konstitusioal perempuan,” demikian kata Kemala Candra Kirana, Ketua Umum Komnas Perempuan dalam konferensi pers yang diadakan Kamis (25/6) di kantornya.
Ke-delapan agenda tersebut adalah, pertama, presiden terpilih, selaku Kepala Negara membatalkan kebijakan-kebijakan diskrimiatif seperti misalnya perda-perda berbasis agama dan UU Pornografi. Kedua, kepala negara menyusun grand design politik hukum nasional guna menjamin pelaksanaan konstitusi nasional. Ketiga, menerbitkan peraturan presiden yang dapat menjamin pelembagaan permanen kelompok kerja PUG (Pengarusutamaan Gender) di bidang pendidikan. Keempat, presiden melakukan percepatan pembaruan agraria dan pengelolan sumber daya alam sesuai dengan TAP MPR No IX tahun 2001; memberikan akses pengelolaan dan kontrol kepada rakyat, termasuk perempuan.
Agenda kelima, memberikan instruksi kepada para kedubes di negara-negara tujuan BMI (Buruh Migran Indonesia) berkaitan dengan perlindungan hak-hak buruh migran. Keenam, memberikan pemenuhan hak-hak dasar bagi korban Lapindo, khususnya perempuan dan anak. Ketujuh, meminta kepada presiden agar menjadikan pengalaman pelanggaran HAM sebagai landasan membangun bangsa Indonesia yang lebih baik. Kedelapan, presiden sebagai Kepala Negara meminta maaf kepada korban dan keluarga korban pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga saat ini.
”Kami sedang mengupayakan ketemu dengan pasangan capres, tetapi jadwal mereka ternyata sudah sangat padat. Padahal kami ingin ketiga calon duduk bersama dengan (perwakilan) perempuan-perempuan se-Indonesia,' kata Kemala.
Kemala menambahkan, hal tersebut bukanlah halangan untuk menyampaikan aspirasi. ”Dan sebagai bentuk konsensus dokumen ini akan diserahkan kepada 3 tim pasangan capres cawapres juga akan dikirim ke moderator debat capres, supaya mereka mengintegrasikan agenda prioritas tersebut,” imbuhnya.
Menurut Kemala, selain itu dokumen juga akan disebarkan ke daerah sebagai upaya untuk mengingatkan calon pemilih sekaligus bahan rujukan bagi pemilih dalam pilpres mendatang.
Nur Azizah
KOMENTAR MASUK:
Perlu wadah bersama menampung pendapat dan rasionalisasi dari semua lapisan, dan bermacam level tingkatan di masyarakat. Aku sadari kawan-kawan aktivis perempuan sudah coba pelopori, akan disayangkan jika terjebak dalam mainstream yang memang sedang menjebak kita semua. Bersikap keras adalah pilihan karena politik kita sendiri mulai mengeras karena dangkalnya alam pikir politisi kita. Selamat berjuang, kalaupun tetap memilih, jangan sampai pikiran lengah untuk mengontrol dan menggoyangkan pemerinatahan negara kita esok.
Komentar oleh
on 06/30 at 09:53 AM
Kalau calon capres dan cawapresnya sibuk,saya mengusulkan alternatif para istri capres/cawapresnya sj ditambah suami Bu Mega yang dihubungi.
Komentar oleh
on 07/03 at 11:00 AM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|