|
Monday, 12 December 2005
Anak •
Hukum dan Kebijakan •
Seksualitas •
Gerakan Perempuan Dukung IPPI Bentuk RAN Perlindungan Perempuan dan Anak dari HIV/AIDS
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Gerakan perempuan siap mendukung IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia) dan sepakat agar Rencana Aksi Nasional Perlindungan Perempuan dan Anak dari HIV/AIDS untuk segera dibentuk Bentuk dukungan terhadap IPPI itu antara lain diwujudkan dengan komitmen dari beberapa organisasi perempuan yakni antara lain SIP (Suara Ibu Peduli) yang akan mensosialisasikan persoalan perempuan dan HIV/AIDS bersama-sama dengan IPPI, PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) yang berjanji akan melakukan advokasi kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS kepada perempuan desa, istri pejabat dan para penegak hukum dan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) yang selalu siap melayani kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS.
Demikian beberapa hal yang menjadi poin penting dalam lokakarya berjudul ”Menjembatani Perempuan Positif dengan Organisasi Perempuan dan Media” yang diselenggarakan oleh Yayasan Jurnal Perempuan di Plaza Oktroi, Kemang, Jakarta Selatan, pada hari kamis (8/12) yang lalu. Hadir dalam loka karya ini sekitar 30an peserta yang mewakili organisasi perempuan dan anak, misalnya: SIP, PEKKA, PKBI, Rahima, YMI (Yayasan Mitra Inti), YKB (Yayasan Kusuma Buana), YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan), Yayasan Bandung Wangi, Indonesia Acts, dan sebagainya, serta beberapa organisasi yang peduli HIV/AIDS dan perwakilan dari IPPI. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari UNAIDS.
Komitmen bersama ini tentu saja amat membesarkan hati para perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS, yang selama ini kerap dibebani stigma dan mengalami diskriminasi di ruang publik akibat virus yang diidapnya. Beberapa pengalaman yang diutarakan oleh para perempuan positif yang diutarakan di dalam lokakarya ini antara lain ditolak saat ke dokter kandungan, ke dokter gigi, bahkan diusir dari kampungnya.
Selain itu, mempertimbangkan bahwa rentannya perempuan dan anak terhadap HIV/AIDS antara lain dikarenakan perilaku seksual lelaki yang kerap gonta-ganti pasangan serta pemerintah yang kurang serius mencegah penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia, maka ide agar segera dibentuk RAN (Rencana Aksi Nasional) Perlindungan Perempuan dan Anak dari HIV/AIDS, disepakati oleh seluruh peserta. Gagasan-gagasan yang perlu diimplementasikan adalah antara lain: perlindungan hukum bagi perempuan positif, upaya sosialisasi dan penyebaran informasi yang penting dalam mencegah penularan HIV/AIDS terhadap perempuan dan anak, serta upaya memberdayakan perempuan positif dimana kerap mereka tingkat kebergantungan mereka dengan pasangannya sangat tinggi.
Persoalan perempuan positif memang sangat rumit, dan ini makin diperkeruh oleh media dengan pemberitaan-pemberitaannya yang kerap tidak bertanggung jawab dan kian memojokkan perempuan positif. Desi Anwar, moderator dalam sessi media, juga mengakui bahwa banyak pemberitaan di media masih bias gender dan tidak berpihak pada korban. Esthi S. Hudiono, salah satu narasumber dari organisasi Hotline Surabaya, mencontohkan di Jawa Timur ada seorang perempuan yang mengalami trauma dan stress berat akibat media memberitakan keluarganya yang mengidap HIV/AIDS. Karenanya IPPI menghimbau agar media berhati-hati dan lebih bertanggung jawab dengan pemberitaan-pemberitannya karena akan berdampak besar terhadap perempuan positif
IPPI sendiri siap untuk menjadi information center selain bahwa anggota-anggotanya juga bisa memberikan kontribusi dalam hal menjadi fasilitator, konseling dan capacity building bagi komunitas di daerah. Untuk menghubungi IPPI bisa melalui Yayasan Spiritia dan PITA. Sementara Yayasan Jurnal Perempuan bersedia memfasilitasi kebutuhan IPPI, misalnya untuk berdiskusi dan melatih mereka dalam menuangkan gagasan dan pengalaman dalam bentuk tulisan. Hal ini juga sangat penting dalam rangka meng-counter pemberitaan di media yang kerap tidak imbang dan memojokkan perempuan positif.
Jurnalis : Adriana Venny
KOMENTAR MASUK:
|