Search | Advanced Search

   

  

 
   

Thursday, 07 January 2010
Gus Dur In Memoriam

Gus Dur, Kubenci dan Kusayang;Sebuah Refleksi


Ketika atmosfir jihad dan khilafah Islamiyah masih memenuhi seluruh dimensi kehidupanku, Gus Dur adalah sosok yang paling ku benci, termasuk dikalangan teman-teman. Kami melihat ia benar-benar pluralis, memandang semua agama yang ada di Indonesia sama. Hal tersebut membuat kami sakit hati. Karena menurut kami Islam adalah agama tertinggi dengan jumlah penganut terbanyak di negeri ini. Belum lagi kedekatan Gus Dur dengan agama-agama non Islam, termasuk menghadiri perayaan natal dan mengakui Tionghoa sebagai salah satu agama yang diakui Indonesia saat ia menjabat Presiden, rasanya aku semakin heran setengah mati.

Pikiran-pikiran Gus Dur juga seringkali tidak sejalan dengan ulama-ulama dan tokoh agama yang kami kagumi; seperti Habib Riziq, Abu Bakar Ba'asyir, dan lain-lain. Gus Dur kerap berbeda dalam menterjemahkan agama kedalam dimensi sosial, benar-benar sekuler dan tak masuk akal bila ditinjau dari perspektif agama yang kami pelajari. Karenanya kami sangat senang bila ada ulama atau ada orang-orang yang melecehkan Gus Dur dengan kata-kata, baik dalam ta'lim maupun tabligh akbar serta di media masa. Rasanya aku dan teman-teman satu suara, bahwa Gus Dur bukanlah orang Islam yang bisa diharapkan untuk menegakkan khalifah Islamiyah di Indonesia.

Masa terus berputar seiring dengan pertempuran dalam diri dan pemikiranku. Semakin banyak aku berpikir, membaca dan mendengar, semakin jelas di depan mataku bahwa Indonesia adalah negara pluralis. Tiba-tiba atmosfir jihad dan wacana tentang khilafah Islamiyah gugur satu demi satu tergantikan dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Yang lebih "aneh" lagi justru nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender seolah menggantikan nilai-nilai fundamentalis agama yang sekian lama menempel kuat dikepala dan hatiku. 180 derajat aku berubah.

Gus Dur, tiba-tiba menjadi perhatianku lagi. Orang yang selama ini aku benci justru telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh banyak orang di dunia. Karena Tuhan -sebagaimana yang kuketahui tentangNya- memang tidak menciptakan satu kaum saja, tetapi ada banyak, yang tujuannya untuk saling mengenal. Jika berperang dengan beda kaum atau agama bagaimana kita bisa saling mengenal. Begitulah kira-kira yang terbersit dalam pikiranku.

Nyeleneh, adalah istilah yang dilekatkan dalam sosok Gus Dur. Tapi lagi-lagi tanpa kusadari akupun meniru cara itu. Dengan cara nyeleneh justru aku merasa semakin kreatif, memiliki banyak alternatif, dan yang jelas ada energi baru. Bahkan Aku dianggap nyeleneh oleh teman-temanku ketika kukatakan bahwa beragama bukan sekedar simbolis; karenanya aku tidak bergantung lagi pada baju koko (muslim), peci, membawa tasbih dan mengenakan sarung saat hendak melakukan ritual agama, bila hanya untuk terlihat seperti muslim.
Kalau dulu aku anti menyatakan selamat natal dan tahun baru, kini sebaliknya, aku mengirimi SMS ke teman-temanku yang non muslim saat mereka merayakan hari besarnya. Lagi-lagi perbuatanku selalu dianggap nyeleneh oleh teman-temanku. Dengan menjadi pluralis aku merasa lebih hidup dan mengakui kebesaran Tuhan yang memang menciptakan dunia dengan tidak satu warna saja.

Semakin hari, semakin aku mengerti jalan pikiran Gus Dur yang pluralis dan multikultural itu. Tanpa ku sadari rasa sayang itu hadir terhadap Gus Dur. Aku bahkan menjadi orang yang turut membela pendapat dan pandangan Gus Dur yang dianggap teman dan orang-orang disekitarku menyimpang dari ajaran Islam. Seperti saat Gus Dur melihat persoalan Ahmadiah secara proporsional layaknya guru bangsa yang mengedepankan kepentingan bangsa yang beraneka ragam ini. Bahkan aku sempat berpikir andai saja Gus Dur tidak terkena stroke, entah akselerasi apa yang terjadi di Indonesia. Tapi Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mendidik rakyat Indonesia, salah satunya dengan tidak menggantungkan harapan hanya pada satu orang, yaitu Gus Dur. Gus Dur adalah contoh bagaimana seharusnya memperlakukan Indonesia.

Kabar gembira sempat mendarat dihatiku, saat temanku Mariana Amiruddin, merencanakan Gus Dur dan aku siaran di RRI membahas tentang isu poligami yang saat itu kembali gencar dilakukan oleh orang-orang yang tidak cukup dengan satu istri. Rencana pertama dibatalkan oleh penyiar RRI. Pada rencana kedua kembali dijadwalkan aku bersama Gus Dur siaran terkait hari ibu. Kembali rasa senang itu hinggap. Tapi Tuhan berkehendak lain, Gus Dur sang Guru Bangsa dan Guru bagi hidupku telah dulu wafat meninggalkan pemikiran dan pendangan “nyeleneh”nya.

Selamat jalan Gus Dur, maafkan bila dalam hidupku pernah membencimu. Tapi akhirnya kesedihan mendalam ini tak bisa aku sembunyikan atas kepulanganmu kehadirat Ilahi.

*Wawan Suwandi, saat ini sebagai Staf Pengembangan di Yayasan Jurnal Perempuan

Wawan Suwandi*

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:


Saya senang membaca cerita anda di atas. Salut dech. Saya adalah seorang yang beragama Buddha lho, banyak orang yang mengatakan bahwa umat Buddha “penyembah patung”. Apa sampeyan dengan jiwa pluralist yang sampeyan ceritakan tadi juga mau menghargai dan akan berteman dengan orang “penyembah patung” seperti saya.

Maaf, saya tidak meragukan jiwa pluralist anda kok. Saya cuma ingin bertanya dengan jujur kepada orang-orang saja, apa mereka mau berteman dengan “penyembah patung” seperti saya.

Thanks a lot yach
Saya pernah belajar apa itu pluralisme, tapi sedikit saja. Saya juga peduli pada hak-hak perempuan. Kalau anda berkenan berbagi pemahaman dan pandangan anda ttg plralismedan feminisme, wooooowo, it will enlighten me. Definitely! Saya tunggu sharing dengan anda selanjutnya ya.

Salam pluralisme
Kalis

Komentar oleh  on  02/22  at  01:31 PM

Halaman ke 1 dari 1 halaman

Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search