Search | Advanced Search

   

  

 
   

Thursday, 18 February 2010
Jurnal

Jurnal Perempuan No 65 - Mencari Ruang Untuk Difabel


“Membongkar Normalisme untuk Memahami Difabel”

Jurnal Perempuan melalui feminisme sebetulnya tidak hanya bicara tentang keadilan bagi perempuan saja. Bagi seorang feminis, keadilan bagi perempuan haruslah menjadi keadilan bagi seluruh manusia. Ringkasnya, seorang feminis haruslah seorang yang mencintai kemanusiaan. Dan dalam perjuangan keadilan ini, feminisme terlibat dalam menyuarakan manusia-manusia yang dipinggirkan, atau tidak dihargai dan tidak diberi akses kehidupan yang layak hanya karena kondisi tubuhnya, pikirannya, pendapatnya, sejarahnya, atau orientasi seksualnya.

Bila feminisme mengatakan bahwa seseorang mengalami diskriminasi hanya karena jenis kelaminnya perempuan, maka feminisme akan mengatakan hal yang sama pada kaum difabel. Bahwa seseorang mengalami diskriminasi hanya karena mereka dianggap tidak normal secara fisik ataupun mental, dan karenanya seseorang itu disebut cacat atau rusak, yang hanya perlu dikasihani dan disantuni. Secara general, isu ini sama dengan yang dibicarakan feminisme tentang pelekatan makna yang negatif terhadap seseorang karena kondisi yang dialaminya. Negatif yang dilekatkan pada perempuan biasanya yang berhubungan dengan sakral-profan, eksploitasi, pelecehan, kekerasan, kelemahan dan ketidakberdayaan, sementara pada difabel pada kekurangan, kerusakan, dan ketidakmampuan yang akhirnya menjadi diabaikan.

Ada irisan antara feminisme dengan problem difabel, yaitu sering menjadi obyek masyarakat, hukum, dan pembangunan tanpa melibatkan mereka untuk menyatakan pendapatnya sendiri, yang itupun untuk manfaat kehidupan mereka sendiri. Oleh karena itu Jurnal Perempuan memutuskan untuk mengangkat edisi khusus mengenai difabel ini sebagai bentuk kepedulian pada para difabel, dan menunjukkan bahwa para difabel sebetulnya memiliki banyak kontribusi dan mampu untuk terlibat dalam aktivitas sosial.

Kita masih ingat pernah memiliki seorang presiden yang disebut cacat tetapi justru berhasil menunjukkan kemampuannya menjadi seorang presiden. Tidak sedikit yang memujinya di dunia internasional karena Presiden bernama Abdurrahman Wahid ini mampu membawa visi negaranya tentang hidup bertoleransi, dan hidup dalam keberbedaan. Sepeninggalnya, tidak sedikit masyarakat yang mendapatkan pelajaran, mengapa orang yang dibilang cacat justru lebih mampu daripada orang yang dibilang normal.

Melalui Jurnal Perempuan edisi ini, kami mengajak pembaca untuk membuka pikiran dan hati bahwa ada satu ketidakadilan lagi yang kita temui, dan apakah yang bisa kita lakukan untuk menegakkan keadilan tersebut demi kemanusiaan yang sempurna. (Marian Amiruddin).



Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:


Untuk pemesanan dan berlangganan serta informasi, hubungi atau telp. di 021-83702005 bagian marketing.

Komentar oleh Jund  on  02/19  at  04:16 PM

to marketing jurnal perempuan
bagai mana saya bisa mengakses buku tentang mencari ruang untuk difabel

karena kami dari lembaga difabel yang berada di jogja

Komentar oleh  on  03/11  at  07:24 PM

Halaman ke 1 dari 1 halaman

Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search