|
Tuesday, 03 February 2004
Anak •
Kegiatan •
Lingkungan •
Seksualitas •
Kesehatan Reproduksi •
Kerjasama Dukun dan Bidan Desa Untuk Menekan AKI dan Bayi
Jurnalis : Sofia Kartika
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Peran dukun tradisional seringkali dianggap sebagai salah satu alasan dalam meningkatnya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Namun, tidak demikian peran dukun tradisional di Kendari, Sulawesi Tenggara. Sebagai contoh adalah di sekitar wilayah Bajo Indah sampai Kecamatan Soronipa, dimana dukun tradisional adalah partner dalam usaha menekan angka kematian ibu dan bayi saat melahirkan. Dukun tradisional di tempat-tempat tersebut kebanyakan tinggal di daerah padat penduduk, sehingga memungkinkan mereka untuk mengontrol kesehatan ibu dan calon bayi.
Hal ini menguntungkan, karena tidak banyak bidan desa yang tinggal menetap di wilayah pesisir tersebut. Biasanya bidan desa datang seperti jam kantor, kondisi ini tidak dapat dipungkiri oleh Bidan Habibie, yang kebetulan menetap di sekitar pemukiman penduduk di Soronipa. Kebanyakan bidan desa, tinggal di kota, karena ada yang masih sekolah dan merasa tidak betah tinggal di tempat yang ditugaskan, misalnya di Bajo Indah. Ibu Hasnani, salah satu penduduknya, merasakan sendiri bagaimana sulitnya untuk mendapatkan air bersih di tempat tinggal mereka.
Koordinasi bidan desa dengan dukun tradisional jelas merupakan hal yang bijaksana menyikapi kondisi tersebut di Kendari. Untuk meningkatkan ketrampilan dukun tradisional tersebut, pihak Dinas Kesehatan setempat juga melakukan pelatihan-pelatihan terhadap dukun tersebut, sehingga prosedur penanganan mereka terhadap ibu dan bayi, paling tidak memenuhi standar-standar yang dijadikan acuan proses persalinan.
Kerjasama ini, salah satu tujuannya adalah untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara. Namun penghargaan yang diberikan kepada dukun tradisional, yang memiliki tugas kurang lebih sama dengan bidan ini, terasa masih sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan sebagai berikut, standar yang diberikan kepada bidan adalah 150.000 rupiah dalam membantu proses kelahiran, sedangkan dukun tradisional, seperti yang diungkapkan oleh Ibu Kandang, salah satu dukun tradisional di Bajo Indah, berkisar 20.000-30.000 saja.
Peningkatan kesejahteraan dukun tradisional, tentu saja perlu dipikirkan, karena kerjasama bidan desa dan dukun tradisional ini adalah salah satu cara yang riil dalam menekan angka kematian ibu, karena tidak hanya bidan saja yang memiliki tanggung jawab tersebut, peran serta masyarakat di lingkungan sekitar tentu saja penting untuk sadar bahwa kesehatan ibu dan bayi adalah penting.
KOMENTAR MASUK:
Saya sependapat bahwa dukungan semua pihak memang diperlukan untuk menekan tingginya AKI and AKB selain kerja sama yang baik antara bidan dan dukun.
Yang perlu diingat bahwa, peningkatan kesejahteraan bagi dukun bukan hanya menyamakan tarif persalinan sama dengan bidan tetapi juga memberikan fasilitas alat persalinan, pengetahuan dan skill.
Mengapa tarif bidan lebih dari dukun, alasan pertama adalah tanggung jawab yang dipikul oleh bidan lebih besar, sistem penggajian di indonesia/daerah menetapkan untuk memberi upah lebih kepada profesi kesehatan dengan standar tertentu, pengetahuan dan skill yang dimiliki berbeda antara bidan dan dukun.
salam
fitri
Komentar oleh
on 07/10 at 08:44 PM
Sekarang dukun beranak dah kerjasama ma bidan desa., tapi masih ada gak y daerah yang masyarakatnya cenderung memilih dukun beranak dibandingkan bidan??? kasih tau saya y kalau tahu., cZ pengen neliti masalah itu euy.
Komentar oleh
on 10/07 at 10:25 PM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|