Search | Advanced Search

   

  

 
   

Monday, 17 January 2005
AnakIDP's dan Pengungsi

Laporan Gempa dan Tsunami di Aceh Anak-Anak Kehilangan Ruang Bermain dan Rentan Penculikan



Jurnalis : Eko Bambang S

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Kondisi yang memprihatinkan yang terjadi pada pada pengungsi anak-anak adalah hilangnya ruang bermain bagi anak-anak. Permainan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan anak-anak, kini terancam hilang sejak anak-anak ini tinggal di posko-posko pengungsian. Selain hilangnya ruang bermain bagi anak-anak, kondisi yang menyedihkan adalah mereka rentan sekali menjadi korban penculikan karena situasi posko yang tidak terkontrol.

Itulah beberapa temuan dari hasil invenstigasi Tim Yayasan Jurnal Perempuan terhadap kondisi anak-anak dipengungsian beberapa waktu yang lalu. Setidaknya ada 4 hal yang menjadi masalah utama yang menimpa anak-anak, Pertama anak-anak kehilangan ruang bermain Anak-anak belum mampu mencerna tentang peristiwa yang sedang terjadi dan dialaminya, sehingga anak-anak masih tetap membutuhkan ruang bermain untuk dirinya. Pipit, dari komnas perlindungan anak yang juga bersama-sama berada di posko pengungsian mengatakan bahwa mekanisme pertahanan diri bagi anak adalah bermain, jadi ruang bermain bagi anak juga harus di tetap disediakan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan komentar Seto Mulyadi yang juga dari komnas perlindungan anak. Menurut kak Seto, anak jangan dibebani untuk bersedih seperti orang dewasa, karena akan berpengaruh pada kondisi psikologisnya, kalau tidak segera diberi ruang bagi anak-anak dia akan mengalami trauma dan dendam akan lingkungan sosialnya.

Lalu bagaimana dengan kondisi anak-anak di posko pengungsian? di sejumlah posko yang ditemui, tidak nampak keceriaan anak-anak. Mereka nampak tegang, takut dan tidak terurus. Tidak ada permainan yang khas yang dilakukan oleh anak-anak. Mereka kebanyakan bergerombol dengan orang-orang dewasa, bahkan sesekali berebut bantuan dan meminta-minta kepada setiap orang asing yang ada.

Sila, misalnya anak perempuan berusia 7 tahun ini merasa tidak kenal sama anak-anak disini sehingga dia tidak bisa bermain, dan kalau bermain Sila sulit menentukan permainannya, tidak seperti di tempat tinggalnya dulu. “ngak kenal siapa-siapa lagi, terus mau main, main apa? Dulu enak main lari-lari sama teman-teman,” ujar Sila.

Kedua, Anak-anak banyak terserang penyakit diare dan gatal-gatal Salah satu masalah yang timbul bagi anak-anak adalah masalah kesehatan. Di posko pengungsian yang kumuh, sangat rentan bagi anak-anak untuk terserang penyakit, terutama gatal-gatal dan diare. Anak-anak ini terserang diare karena tidak terkontrol makananya. Selama di posko pengungsian, mereka tidak terawat dengan baik, baik kebersihannya maupun makanan yang dikonsumsinya. Selain itu makanan mie instant yang terus-menerus mereka konsumsi setiap hari berpengaruh pada pencernaan sehingga yang dirasakan sekarang adalah sakit perut. Selain diare anak-anak juga terserang penyakit gatal-gatal. Hal ini dikarenakan tingkat kebersihan air dilingkungan kesehatan yang tidak memadai.

Masalah ketiga adalah gizi makanan bagi anak-anak kurang. Gizi makanan bagi anak-anak sangatlah kurang. Hampir setiap hari yang dikonsumsi anak adalah makanan yang juga dikonsumsi orang dewasa yang belum tentu baik bagi perkembangan anak. Makanan yang hampir dipastikan mereka konsumsi setiap hari adalah mie instant. Tidak ada satupun diposko pengungsian yang mempunyai variasi makanan khususnya bagi anak-anak.

Minimnya gizi bagi anak-anak ini terlihat dari pandangan mereka sangat luyu dan kotor. Beberapa anak yang berhasil ditemui Tim YJP menurut pengakuan orangtuanya mengalami penurunan berat badannya. “Anak saya sejak dipengungsian semakin terlihat kurus dan kotor, dan terkadang sering sakit, padahal sebelumnya badanya cukup gemuk dan selalu bersih, saya sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anak ini, apalagi sekarang saya tidak bisa mengontrol dengan baik apa yang mereka lakukan setiap hari, “ujar Isma, orang tua Alif seorang anak laki-laki berusia 4 tahun.

Keempat, masalah yang sangat serius adalah anak-anak mengalami perubahan perilaku. Salah satu gejala yang juga berhasil di tangkap oleh Tim YJP dari pengamatan dan hasil wawancara adalah perubahan perilaku pada anak-anak. Anak-anak yang ada di posko lebih banyak menjadi anak yang pendiam. Mereka terlihat stress dengan perubahan situasi yang terjadi. Hal ini seperti pengakuan ibu Siti yang anaknya sekarang tidak seceria dulu lagi. Dia banyak melamun dan diam, setiap ketemu orang agak takut. Anaknya berusia 6 tahun “Hampir setiap hari dia selalu menanyakan, ma kapan pulang?, “ujar ibu Siti menirukan anaknya.

Dan kelima, anak-anak di area posko pengungsian ini rentan penculikan dan perdagangan. Salah satu isu yang marak yang terjadi pada anak-anak pasca bencana gempa dan tsunami ini adalah penculikan dan perdagangan anak-anak. Hasil investigasi YJP memang tidak menemukan informasi dan data akan penculikan dan perdagangan anak tersebut. Sejumlah informasi yang diperoleh Tim YJP namun ketika di cross cek ulang tidak berhasil ditemukan jawabannya, dan memang jadinya simpang siur antara informasi yang satu dengan yang lain.

Namun demikian, jika diamati bagaimana kondisi anak-anak ini di pengungsian memang cukup rentan untuk terjadinya penculikan dan perdagangan. Hal ini terkait dengan kondisi posko pengungsian yang tidak teratur dan banyak sekali orang-orang yang lalu lalang tidak jelas. Sementara itu banyak juga terdapat anak-anak yang lalu lalung tidak terawasi dengan baik.

Dengan kondisi yang seperti ini, bukan tidak mungkin anak-anak ini menjadi rentan untuk terjadi penculikan. Kondisi rentan juga memang bisa terjadi karena beban orang tua yang berat dengan jumlah anak yang banyak sangat mungkin orang tua akan menjual anaknya. Apalagi pendataan berapa jumlah anak di setiap posko pengungsian tidak dilakukan secara baik. Sehingga pengawasan terhadap anak-anak inipun menjadi rendah.

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search