|
Sunday, 09 January 2005
Anak •
IDP's dan Pengungsi •
Laporan Gempa dan Tsunami diAceh Mekanisme Pertahanan Diri Anak Adalah Bermain
Jurnalis : Eko Bambang S
Jurnalperempuan.com-Banda Aceh. Diantara sejumlah korban Gempa dan Tsunami yang terjadi di Aceh, anak-anak adalah korban bencana dengan jumlah jumlahnya juga banyak, dengan tingkat kerentanan yang cukup tinggi. Disamping jumlah korban meninggal yang banyak, bagi mereka yang selamat, anak-anak akan mengalami kondisi psikologis yang rentan bagi perkembangan dirinya. Untuk itulah salah satu target dari penanganan korban pasca bencana ini anak-anak harus mendapat prioritas penanganan yang cukup seius agar dimasa depan anak-anak tidak menyimpan sebuah trauma yang mempengaruhi perkembangan hidupnya.
Salah satu upaya untuk membantu anak-anak yang menjadi korban bencana ini adalah dengan mengajak mereka untuk tetap menjadi seorang anak dengan dunianya yang ceria, suka permainan dan sebagainya. Upaya inilah yang dilakukan oleh Seto Mulyadi, atau akrab dipanggil kak Seto yang saat ini menjadi ketua Komnas Perlindungan Anak mengajak anak-anak di dalam pengungsian untuk bermain dengan dongeng. Dalam kesempatan ini Kak Seto bersama-sama rekannya di Komnas Perlindungan Anak telah mengunjungi tiga lokasi pengungsian yaitu di posko pengungsian Lampeneurut Aceh Besar, Posko pengungsian di Dinas Sosial di Banda Aceh dan posko pengungsian di Ujong Bate.
Kepiawaian Kak Seto dalam mendongeng ini cukup menarik perhatian anak-anak. Kecerian nampak terlihat diwajah anak-anak ketika kak Seto memulai dengan sejumlah nyayian, permainan sulap dan drama singkat dengan pak Buaya. Mereka tertawa, menyanyi, dan cukup seksama mendengarkan apa yang dilakukan oleh Kak Seto.
“Kegiatan ini untuk memperkuat asumsi kami bahwa anak-anak ini yang sudah terkena trauma dengan pengalaman-pengalaman yang mengerikan itu akan cepat bisa disembuhkan traumanya kalau bisa dilakuikan segera mungkin. Sebaliknya kalau terlambat maka ibarat sebuah luka, juga akan membekas dan lama-lama akan menimbulkan cacat, “ujar Kak Seto. Untuk itu menurut Kak Seto, dengan membuat anak-anak bergembira kembali itu salah satu bagian bagi anak-anak untuk mengekspresikan ide-idenya seperti bernyayi, menggambar, mewarna anak-anak akan bisa menyembuhkan diri dari luka-luka traumatiknya dan ini dibuktikan dengan tampilnya wajah-wajah yang ceria pada anak-anak tadi, dan itu kalau dilakukan secara teratur, terus-menerus dan bervariasi oleh tim-tim relawan peduli anak maka kekhawatiran akan timbulnya dendam jangka panjang bagi anak-anak terhadap keadaan ini akan bisa kita hilangkan, Kata Kak seto. Namun demikian menurut kak Seto, jika tidak ada kepedulian dari kita atau pemerintah tidak memberi perhatian kepada anak ini, maka nantinya akan mendapatkan kondisi anak-anak yang menyedihkan dimasa depan yaitu anak-anak aceh masa depan yang frustasi, katanya. Sementara itu Rachma Fitriati, yang juga berasal dari Komnas Perlindungan Anak mengungkapkan bahwa “permainan inilah salah satu cara terbaik yang dapat dilakukan untuk memberi kepedulian kepada anak-anak, karena salah satu mekanisme pertahanan diri bagi anak-anak ya dengan permainan. Anak-anak berbeda dengan orang dewasa, ia butuh bermain seperti adanya seorang anak, jadi jangan paksakan pula anak-anak untuk ikut bersedih seperti orang tua mereka,” ujar Rachma.
Kak seto mengungkapkan bahwa kegiatan ini nantinya akan dikoordinasikan dengan sejumlah organisasi pemerintah dan non pemerintah agar setiap kegiatan dapat terpantau dengan baik dan tidak bekerja sendiri-sendiri. Bahkan dalam waktu dekat kak Seto akan memulai merintis sekolah darurat bagi anak-anak korban bencana di posko-posko pengungsian.
KOMENTAR MASUK:
|