Phnom Penh, Jurnalperempuan.com - Ada hal yang menarik saat anda berkunjung ke Phnom Penh, Kamboja. Di berbagai restoran atau hotel di Phnom Penh, Kamboja sudah dapat dipastikan anda akan menemukan berbagai selebaran maupun poster tentang larangan child sex tourism (CST) atau turisme seks yang melibatkan anak. CST memang masih menjadi masalah yang sulit ditangani oleh pemerintah Kamboja saat ini.
Dalam sebuah video laporan investigasi yang dibuat oleh NBC, CST merupakan hal yang mudah di Kamboja. Untuk mendapatkan pelayanan seks dari seorang anak, sang germo memberikan tarif US$ 10-30. Dalam video tersebut tampak beberapa anak perempuan yang berumur sekitar 8-10 tahun yang tampak kebingungan. Kamboja memang menjadi salah satu target dari para turis yang bertujuan untuk CST.
Kebanyakan anak yang masuk dalam jaringan prostitusi anak merupakan korban dari perdagangan orang di Kamboja. Menurut beberapa laporan Non-Government Organization (NGO) yang melakukan advokasi dan kampanye tentang CST dan Perdagangan Anak, kebanyakan dari mereka berasal dari Vietnam dan beberapa propinsi di Kamboja. Tidak jauh berbeda dengan modus operandi di Indonesia, mereka dijanjikan untuk bekerja atau sekolah di Phnom Penh. Namun, pada akhirnya mereka terjebak dalam sindikat pelacuran anak.
Persoalan kemiskinan menjadi persoalan bagi banyak orang tua di Kamboja sehingga melibatkan anak mereka dalam pelacuran anak. Minimnya tingkat pendidikan menjadi faktor pendukung dalam persoalan ini. Walaupun sudah ada undang-undang yang memberikan sanksi cukup berat dari pemerintah Kamboja, CST dan perdagangan anak masih sulit dilawan. Menurut LICADHO, persoalannya adalah angka korupsi yang tinggi dalam aparat penegak hukum yang menyebabkan persoalan ini terus berlangsung.
Untuk mengurangi CST di Kamboja, beberapa NGO melakukan berbagai kampanye. Salah satunya adalah menyebarkan informasi ke berbagai hotel dan restoran di wilayah Kamboja tentang CST. ECPAT, salah satu NGO yang bekerja untuk kampanye anti perdagangan dan prostitusi anak merekrut 100 pengemudi Tuk-tuk (sejenis becak bermotor-red) yang beroperasi di wilayah Phnom Penh. Mereka diberikan pelatihan untuk mencegah turis yang ingin melakukan prostitusi anak.
Syaldi Sahude
sungguh mengerikan dan tragis nasib anak2… cuma manusia biadab yang berbuat itu… indonesia ayo perangi terus....
Komentar oleh
on 07/22 at 01:19 PM