|
Tuesday, 04 April 2006
Budaya •
Memahami Negativitas dengan Teologi Naratif
Jurnalis Kontributor: Latifah
Jurnalperempuan.com-Yogyakarta. “Karena kekagumannya pada Kartini, Bapak selalu menasihati anak-anaknya untuk memiliki jiwa mandiri. Dalam hal ini, saya seperasaan dengan Bapak. Saya mengamini harapan dan cita-cita Bapak itu dengan suatu tekad untuk mempersembahkan apa yang saya dapat lakukan dan yang saya miliki demi kaumku, kaum perempuan yang saat itu masih dianggap sekadar konco wingking yang bisa diperlakukan seenaknya,” kisah Sumarmiyati, pelaku sejarah 1965.
Dalam mewujudkan tekadnya untuk maju itu, Sumarmiyati bergabung ke dalam IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) selain PMKRI (Permhimpunan Mahasiswa katolik Indonesia). “Dan aku, sebagaimana kaum sebayaku, terbuai dalam mimpi siang-malam yang indah dengan cita-cita menjadi anak bangsa,” kenangnya.
Namun, mimpi Sumarmiyati itu berubah menjadi tragedi. Ia menceritakan, “Mimpi-mimpi menjadi Kartini, sebagaimana pesan bapakku, sirna sudah. Tanggal 22 Desember 1965, saya diciduk dan dijebloskan dalam pengapnya penjara gelap. Kata mereka yang mencidukku, aku yang adalah anggota IPPI ini dianggap sebagai underbauw PKI.” Dengan nada getir, ia pun mengemukakan berbagai penyiksaan yang menimpa dirinya “Saya tidak mengerti ada orang yang menelanjangi perempuan atas dasar kekuasaan,” ujarnya dengan geram.
Kesaksian Sumarmiyati tersebut disampaikan dalam Diskursus Publik: Strategi Memahami Negativitas, Menuju Praksis Rekonsiliasi Bangsa yang dilaksanakan oleh Jurnal Fenomena dan PUSDEP Universitas Sanata Dharma (USD) di Yogyakarta, Minggu (2/4).
Berkaitan dengan peristiwa seperti yang dituturkan oleh Sumarmiyati tersebut, F. Budi Hardiman, Dosen STF Driyarkara, menjelaskan bahwa suatu peristiwa menjadi “negatif” tidak hanya karena karena subjek itu tidak lagi mampu menanggulangi situasinya, tetapi juga “terhisap” di dalamnya, seolah-olah tragedy itu “menduduki” kebebasannya sejak awal dan “memerintahnya” sebagai seorang tiran di dalam jiwanya. Destruksi kolektif dilanjutkan di dalam kesadaran sebagai destruksi diri: suatu “trauma”.
Trauma itu tidak akan pernah lepas dengan cara melupakan, bahkan justru akan bermkim dalam ingatan. Oleh karena itu, menurut Budi Hardiman, masyarakat yang terluka akan bangkit menjadi masyarakat yang dewasa jika belajar untuk “melampaui mengingat dan melupakan”.
Dalam upaya itu, Bernhard Kieser SJ, Teolog Moral USD,berpendapat bahwa teologi dapat memberikan sumbangan pada rekonsiliasi kalau mengajar kita untuk berkisah dengan cara masing-masing. Kita membutuhkan teologi penciptaan yang mengajarkan supaya setiap orang berkisah sesuai dengan sejarah hidupnya sendiri.
Selanjutnya, menurut St. Sunardi, Ketua Program Studi Ilmu Religi dan Budaya USD, untuk mengolah pengalaman yang begitu kaya tersebut, terutama dalam sebuah eksperimentasi teologi rekonsialisasi sosial, naratif menjadi bentuk pelaporan yang lebih cocok.”Narasi dalam teologi kita butuhkan untuk mensitesakan antara pengamatan yang kita temukan secara empiris-partisipatoris dan emosi kita saat berhadapan dengan hasil pengamatan tersebut,” jelasnya. Metode narasi dapat digunakan untuk membicarakan hal-hal yang dianggap tidak normal, sulit dihubungkan dengan gejala-gejala yang dianggap wajar. Narasi dengan alurnya sendiri beserta para tokoh dan settingnya membuat hal yang tampak anormal itu pantas dibicarakan dan bermakna.
Namun, pada zaman informasi ini, saat semakin personal suatu informasi akan semakin laris, narasi tentang pengalaman pribadi harus ditulis dengan hati-hati. Misalnya, dalam kajian perempuan, buku-buku yang lebih banyak bicara tentang politics of experiences bisa mempunyai risiko yang lebih besar untuk memojokkan perempuan dibandingkan dengan buku yang bicara dalam tataran grand r?cit. *
KOMENTAR MASUK:
xnCMyW mrwnalyrnrii, mkukyledukla, [link=http://qyyhpkhcmnsw.com/]qyyhpkhcmnsw[/link], http://pzyhyklriqoj.com/
Komentar oleh idbqsw
on 02/06 at 08:12 PM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|