Search | Advanced Search

   

  

 
   

Wednesday, 11 April 2007
AnakPendidikan

Membaca Lagi Timun Emas




Jurnalperempuan.com-Jakarta. Sebagian kita mungkin pernah mendengar dongeng Timun Emas. Dengan sejumlah bekal, ibu Timun Emas "terpaksa" melepaskan Timun Emas yang sejak belia sudah diincar raksasa. Bekal yang dibawa Timun Emas antara lain garam, jarum, terasi.

Bekal-bekal inilah yang kemudian menyelamatkan Timun Emas dari raksasa. Garam menjadi lautan. Jarum-jarum menjelma hutan. Sampai pada akhirnya terasi yang berubah menjadi lumpur hidup menghisap sang raksasa.

Karena hari telah petang, Timun Emas mencari tempat berteduh. Dia memutuskan memanjat pohon agar terhindar dari binatang-binatang yang hidup di hutan.

Keesokannya, seorang pangeran tampan berkuda putih yang mendapati Timun Emas di atas pohon merasa kasihan. Pangeran dianggap pahlawan karena membantu Timun Emas turun. "Padahal dia (Timun Emas) naiknya sendiri (tanpa bantuan)," komentar Melani Budianta.

Cerita Timun Emas diakrabi sebagai dongeng pengantar tidur anak-anak. Baik disadari atau tidak, nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng ini pun diadopsi dalam pembentukan karakter sang anak. Anak perempuan berharap akan bertemu pangeran yang akan menyelamatkan hidupnya, papar Melani membongkar salah satunya. Sayang sekali, pengertian ini yang lebih banyak tertanam dalam benak anak-anak.

Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, dongeng Timun Emas ini pun menyimpan nilai yang positif bagi pembangunan karakter perempuan. Misal, bekal Timun Emas yang bermuara pada barang-barang domestik bisa dimaknai sebagai kekuatan perempuan untuk lebih fleksibel menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Pembacaan pada karya itu sendiri bisa lebih cair dilakukan. Hal ini diinsyafi dengan adanya keberagaman latar belakang sosial budaya setiap orang.

Pendidik dari Universitas Indonesia yang kebagian menyampaikan materi Multikulturalisme dan Politik Identitas ini lantas mengembalikan kepada peserta Workshop Feminis "Bagaimana Menjawab Permasalahan Perempuan" untuk menjawab persoalan-persoalan pribadi yang terkait dengan identitasnya sebagai perempuan.*

Henny Irawati

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:


Perempuan memang seharusnya bersikap tangguh dalam menghadapi masalah. Sosok pangeran seharusnya bukan diartikan bahwa perempuan itu lemah atau dikasihani. Ini hanya sebuah bentuk kerjasama antara perempuan dan laki-laki. Jika perempuan telah berhasil menyelesaikan masalahnya, bukan berarti ia lupa pada pasangan. Perceraian yang marak yang sekarang ini disebabkan perempuan telah merasa mampu mengatasi masalah-masalahnya seolah tak butuh siapapun, termasuk pasangan.Perempuan yang pandai memasak memaparkan pengalamannya menyajikan hidangan yang dinilai enak oleh pasangan akan memberikan kepuasan batin yang lebih daripada masak tanpa pasangan. Find your favourite recipes :
http://id.openrice.com/recipe/index.htm grin

Komentar oleh Ratih  on  06/08  at  10:33 AM

Perempuan memang seharusnya bersikap tangguh dalam menghadapi masalah. Sosok pangeran seharusnya bukan diartikan bahwa perempuan itu lemah atau dikasihani. Ini hanya sebuah bentuk kerjasama antara perempuan dan laki-laki. Jika perempuan telah berhasil menyelesaikan masalahnya, bukan berarti ia lupa pada pasangan. Perceraian yang marak yang sekarang ini disebabkan perempuan telah merasa mampu mengatasi masalah-masalahnya seolah tak butuh siapapun, termasuk pasangan.Perempuan yang pandai memasak memaparkan pengalamannya menyajikan hidangan yang dinilai enak oleh pasangan akan memberikan kepuasan batin yang lebih daripada masak tanpa pasangan.

Komentar oleh Ratih  on  06/08  at  10:34 AM

Halaman ke 1 dari 1 halaman

Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search