|
Monday, 16 March 2009
Budaya •
Metode Pergerakan Feminis Seorang Gadis Arivia
Jurnalis : Nur Azizah
JurnalPerempuan.com-Jakarta. Realitas sosial atas persoalan perempuan yang terus bergolak di negeri ini tak luput menjadi kegelisahan siapa saja. Termasuk bagi seorang Gadis Arivia, pendiri Yayasan Jurnal Perempuan, yang menuangkan kepedulian dan perhatiannya dalam kumpulan puisi berjudul “Yang Sakral dan Yang Sekuler.”
“Puisi yang bukan puisi,” demikian pendapat Robertus Robert, Dosen Filsafat Universitas Indonesia dalam launching buku “Yang Sakral dan Yang Sekuler,” Sabtu (14/3) di MP Book Point, Jakarta. Ia menambahkan, puisi yang ditulis Gadis justru menghasilkan estetika politik karena ditulis dengan kata-kata sederhana dan transparan yang mengandung kedalaman. “Bahkan menunjukkan pada subyek yang sangat jelas, yaitu perempuan dan tubuh perempuan di dalam ketegangan,” imbuhnya.
Lebih jauh Robertus menjelaskan bahwa kondisi perempuan Indonesia yang digambarkan dalam kumpulan puisi –selaras dengan realitas sesungguhnya- menempatkan perempuan tak ubahnya dalam tradisi romawi kuno. “Perempuan didefinisikan secara hukum tapi juga ditendang, contohnya UU Pornografi,” katanya.
Sementara Kartini, seorang pakar antropologi, mengatakan bahwa rangkaian kata-kata yang ditulis Gadis Arivia adalah refleksi kegelisahan, kemarahan, kerinduan seorang Gadis Arivia sebagai perempuan terhadap realita.
Mariana Amiruddin, Direktur Ekskutif YJP mengungkapkan, ketika Gadis Arivia membahasakan tubuh dalam puisi-puisinya, maka tubuh yang dimaksud adalah tubuh dalam konteks sosial.
“Yang Sakral dan Yang Sekuler” merupakan metode pergerakan feminis sosok Gadis Arivia terhadap carut marut bangsa dalam memandang perempuan. Lantas pekerjaan rumah yang muncul bersamanya adalah bagaimana menterjemahkan kegiatan advokasi ke dalam metode yang lebih indah dan segar laiknya bait demi bait puisi dalam “Yang Sakral dan Yang Sekuler.”**
Nur Azizah
KOMENTAR MASUK:
|