Search | Advanced Search

   

  

 
   

Wednesday, 13 January 2010
AnakPerdagangan Orang

Perdagangan Organ Intai Rumah Bersalin


Jurnalperempuan.com-Jakarta. Bocah perempuan asal Indonesia yang saat ini berusia 12 tahun, kini diketahui berada di Tokyo, Jepang. Ia kehilangan satu ginjalnya dengan luka bedah di pinggang dan lidahnya dipotong dengan sengaja. Saat ini sebuah keluarga Indonesia di Tokyo merawat bocah perempuan itu.

“Bunga (nama samaran) diketahui hilang saat berusia 8 tahun, kini sudah berusia 12 tahun. Kami sedang berkoordinasi dengan KBRI di Tokyo untuk memastikan kondisi bocah yang namanya masih dirahasiakan itu,” kata Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait.

Kasus penculikan bayi juga menimpa pasangan Murtanti (33) dan Edi Sugianto (43). Bayi laki-laki mereka diculik oleh perempuan yang menyamar sebagai suster di Puskesmas Kembangan, Jakarta Barat, Jumat 8 Januari 2010 lalu.

“Pada tahun 2008 ada 12 kasus penculikan bayi yang baru lahir di tempat bersalin; seperti rumah sakit, puskesmas, ataupun klinik bidan, di Jabodetabek. Pada tahun 2009 melonjka menjadi 26 kasus. Itu pun baru kasus yang tercatat di Komnas PA. Masih banyak kasus yang tidak terpantau,” ungkap Arist. Untuk itu Arist menghimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap sindikat penculik bayi yang saat ini mengintai rumah bersalin.

Arist menjelaskan, ada tiga tipe kejahatan penculikan bayi dan anak oleh sindikat. Tindakan adopsi ilegal, eksploitasi seksual, dan perdagangan organ tubuh.

Adopsi ilegal yang menimpa anak-anak Indonesia melalui orangtua angkat di dalam dan luar negeri. Menurut Arist, saat usia bayi kurang dari seminggu identitas bayi sangat mudah dibuat dan dipalsukan dengan imbalan uang. Sementara perdagangan organ tubuh seperti bola mata anak, hati, dan ginjal merupakan organ yang laris dijual ke beberapa Negara pemasok perdagangan organ tubuh di Asia; Nepal, Banglades dan Sri Lanka.

Selain tiga tipe tersebut, berdasar pantauan Komnas PA modus kejahatan yang juga mengintai bayi dan anak adalah perkawinan antarnegara yang menjadikan perempuan asal Indonesia sebagai korban. Umumnya perempuan tersebut berasal dari Singkawang Kalimantan Barat yang menikah dengan laki-laki warganegara Taiwan.

“Sesudah menikah dan mempunyai anak, si perempuan dicerai, lalu dikembalikan ke Indonesia. Anak yang lahir dibesarkan lalu dijadikan budak seks di Taiwan. Sejumlah kasus tersebut sudah ditemukan Komnas PA,” kata Arist.

Lansir dari Kompas, Rabu (13/01/2010)

Nur Azizah

Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search