|
Friday, 07 September 2007
Budaya •
Perempuan Berkiprah Memajukan Seni Tradisi
Jurnalis Kontributor: Latifah
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Peran perempuan dalam seni pertunjukan di Jawa Barat mengalami kemajuan yang sangat pesat. Citra perempuan penari yang dahulunya dikonotasikan sebagai “kembang buruan” kini bergeser menjadi “kembang kahirupan” atau “ladang kahirupan” (sumber kehidupan).
Endang Caturwati, yang melakukan pengkajian perempuan dalam hal manajemen sinden Jaipongan, mengungkapkan bahwa perempuan telah berani mengubah nilai dan tatanan sosial dengan mendirikan grup, menjadi manajer ataupun produser seni pertunjukan, seperti yang banyak terdapat di daerah Karawang dan Subang. Menurut Endang, di masa kini perempuan seni pertunjukan memang harus berkembang sebagai sosok perempuan yang kreatif, mandiri, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan seni tradisi sesuai dengan perkembangan zaman, “Perempuan Sunda bukan hanya bisa ngigel, tapi juga ngigelan dan ngigeulkeun.”
Proses marjinalisasi perempuan dalam sejarah seni pertunjukan di Jawa Barat berlangsung dengan pelarangan perempuan terhormat untuk menari di muka umum. Tarian yang berkembang di kalangan menak hanyalah tarian yang dibawak oleh laki-laki, seperti Wayang, Topeng, Tayub, dan Keurseus. Sementara tarian yang ditampilkan perempuan pada umumnya tari hiburan, seperti Dongbret, Belentuk Ngapung, Doger, Ketuk Tilu, atau ronggeng dalam Tayuban. Kondisi ini membuat perempuan penari mempunyai konotasi negatif di masyarakat sebagai perempuan penghibur. Seperti halnya di Cina, Jepang, dan Vietnam pada masa itu, tari yang disajikan perempuan diidentikan dengan pelayanan seksual untuk kepentingan kaum pria yang berkedok politik dan kekuasaan.
Pada masa munculnya karya tari R. Tjetje Soemantri, ketabuan perempuan untuk menjadi penari perlahan menghilang meskipun para perempuan harus sembunyi-sembunyi untuk belajar menari. “Dominasi kepenarian kaum laki-laki yang disponsori oleh kaum menak, lambat laun beralih ke kaum perempuan dan dampaknya masih terasa sampai kini,” ungkap Toto Amsar Suanda.
Kiprah perempuan Sunda dalam seni pertunjukan secara nyata terlihat dalam diri Endang Caturwati. Komitmennya pada seni tradisi diwujudkan dengan mengelola Hapsari, Ajang Kreasi Seni Tradisi Indonesia. Selain itu, Endang, yang menempuh S-1 di Institut Seni Indonesia (ISI) serta S-2 dan S-3 di UGM, juga aktif mengangkat budaya Sunda melalui jalur akademis, terutama dengan profesinya sebagai dosen di STSI Bandung. Dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Endang menjalin kolaborasi di antara lembaga-lembaga yang menaunginya tersebut dengan mengadakan hajatan Gelar Seni Budaya Sunda yang berlangsung 5-7 September 2007. Rangkaian acara tersebut diawali dengan Seminar Seni Pertunjukan di Tatar Sunda pada Rabu (5/9) di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Malamnya acara dilanjutkan dengan Pertunjukan Karesmen Tari Ronggeng Midang di Gedung Pusat Budaya Koesnadi Hardja Soemantri. Dua hari berikutnya, digelar pula Pertunjukan Rengkak Parahiangan di ruang pagelaran Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Selain itu, diadakan pula workshop jaipongan dan Rampak Kendang pada Kamis (6/9) di Kampus ISI. *
KOMENTAR MASUK:
didaerah-daerah banyak lo yang nggak ke ekspose media atau sorotan. pdhal banyak perempuan terjun di bid seni seperti kentrung wayang, jemblung dll
Komentar oleh
on 07/13 at 11:40 PM
Xxcv8b jlpqosclngyk, hafapavxlrxk, [link=http://catvubkxtqua.com/]catvubkxtqua[/link], http://rxcehbfhfcng.com/
Komentar oleh hxwkkta
on 02/06 at 08:33 PM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|