Search | Advanced Search

   

  

 
   

Wednesday, 27 July 2005
BudayaHukum dan KebijakanPluralisme

Poligami Bukan Identitas Keislaman


Menurut Faqihudin dari Fahmina Institute Cirebon menegaskan bahwa slogan-slogan tersebut sedang berupaya keras untuk mengukuhkan bahwa poligami merupakan identitas Islam. Islam tanpa poligami adalah Islam yang tidak Kaffah, bahwa lebih mengerikan lagi Islam yang liberal dan kafir yang halal untuk dihanguskan. Pendapat Faqihudin tersebut disampaikan dalam diskusi buku “Demokrasi Keintiman; Seksualitas Di Era Global Karya Ratna Batara Munti di Jakarta, Jumat (22/07/05).

Sebagai Cendekiawan Muslim, Faqihudin menegaskan bahwa perdebatan poligami-monogami seharusnya dihadapkan pada persoalan realitas yang nyata dan terjadi, tidak pada dualisme Islam versus tidak Islam. Poligami tidak bisa dijadikan salah satu ukuran keislaman atau keimanan seseorang. Bagi Faqihudin hal yang menjadi prinsip dalam perdebatan tersebut adalah soal keadilan dan anti kezaliman. Prinsip itulah yang seharusnya menjadi ukuran untuk mendiskusikan, membicarakan dan pada akhirnya memilih poligami atau monogami.

“Jika prinsip utama dalam diskusi poligami-monogami adalah keadilan dan anti kezaliman, maka alasan-alasan parsial tidak bisa serta merta menjadi pembenar poligami. Alasan-alasan poligami, yang seringkali muncul hanya untuk kepentingan laki-laki, tidak bisa serta merta dihadapkan dengan prinsip keadilan dan anti kezaliman,”ujar Faqih. Ia menambahkan, “Karena poligami bersifat parsial, sementara keadilan bersifat prinsipal, maka yang parsial justru harus tunduk pada yang prinsip. Oleh karena itu tidak bisa dikatakan bahwa ketakutan berzina bisa menjadi alasan berpoligami. Ketakutan terhadap zina, bisa diredam dengan berbagai cara dan bisa dilakukan dengan cara-cara yang halal dan tidak menimbulkan mafsadah kepada pihak lain,” tambah Faqih.

Dalam konteks itu menurut Faqihudin sangat tidak tepat jika poligami lebih baik dari berzina karena ungkapan itu seringkali menjadi dasar bagi kewenangan berpoligami. Berzina tentu saja buruk, dan lebih buruk dari poligami, tetapi keduanya tidak tepat dihadapkan begitu saja, apalagi untuk memotivasi praktik-praktik poligami. Ungkapan itu hanya benar dari sisi pemenuhan seksual semata tetapi tidak sepenuhnya menjadi pilihan yang tepat, karena monogami juga lebih baik dari berzina, tidak kawin, bahkan onani dan masturbasi juga jauh lebih baik dari berzina dan semua itu bisa menjadi alternatif dari berzina.

Menurut Faqihudin, baik ayat al-Quran maupun teks-teks Hadist yang terkait dengan persoalan poligami-monogami, sebenarnya lebih menekankan pada kritik terhadap poligami, baik kritik ketidakadilan, ketertindasan, kezaliman,aniaya, permusuhan dan pemutusan hubungan keluarga dan kekerabatan (silahturahmi). Karena itu baik Al-Quran maupun Hadist tidak bisa menjadi basis apresiasi terhadap poligami seperti memerintahkan, menganjurkan, memuji atau menganggapnya sebagai syari’at dan ibadah. Bahkan kebolehan poligami –mungkin-tidak bisa diambil basis argumentasinya dari Al-Quran dan Hadits, karena poligami tealah ada dan dipraktikkan jauh sebelum Islam datang. Bukan Islam yang membawa poligami, tetapi Islam melalui Al-Quran dan Hadits justru yang mengkritik poligami. Kritik inilah yang seharusnya diteruskan terhadap praktik-prakti poligami yang akhir-akhir ini masrak terjadi dengan asumsi dukungan syariah dan harus selalu diletakkan pada meja penghakiman; sejauh mana ia telah menerapkan prinsip keadilan yang diperintahkan Al-Quran. “Atas dasar itulah, maka janganlah menjadikan poligami sebagai perwujudan Syariah Islam yang kaffah, karena poligami bukan identitas keislaman,” ujar Faqihudin. *(Eko Bambang S)



Bookmark and Share

KOMENTAR MASUK:




Name:

Email:

Location:

URL:

Smileys/Emoticon

Ingat keterangan yang saya isi

Beritahu saya kalau ada komentar balasan

   
   
 
 
   
 
  Creative Commons LicenseJurnal Perempuan On-line   berlisensi Creative Commons. Kontak: Jl. Tebet Barat Dalam IXA No. B-1 Jaksel | 021-83702005  
 
         
search