|
Thursday, 11 June 2009
Seruni itu Bernama Narsidah
Oleh: Nur Azizah
“Sudah masuk ke PT 3 bulan, namun prosesnya ngga jelas. Saya ngga dapat majikan. Di penampungan itu seluruh CTKI (Calon Tenaga Kerja Indonesia) dicampur, baik yang jurusan ke Malaysia, Singapur, Taiwan, Hongkong, dan lain-lain. Sehingga terlalu banyak. Dari seringnya bertemu dengan CTKI lain, saya ketemu CTKI yang telah lebih dari satu tahun ditampung dan belum diberangkatkan. Itu kan sangat memprihatinkan. Belum lagi kondisi PT (penampungan Pademangan Semesta Lestari, Jakarta Utara, tahun 2000-red) juga sangat memprihatinkan. (Yaitu) bekas gedung film dengan karpet bekas dan bantal terbatas. Jadi setiap malam kita berantem berebut bantal padahal sudah di kasih nama.” (Narsidah, mantan TKW)
Perempuan itu tengah hamil besar ketika Senin (8/12) pagi menyambangi kantor Yayasan Jurnal Perempuan di daerah Tebet. Ia ditemani dua rekannya yang juga mantan buruh migran, Cayadi dan Lily. Karena kepeduliaannya terhadap teman-teman di Seruni (Paguyuban mantan buruh migran, keluarga buruh migran dan masyarakat yang peduli terhadap persoalan buruh migran) Narsidah bertandang dan berharap memperoleh buku-buku yang menyajikan informasi bagi teman-teman di kampung. “Mbak, kalau boleh bukunya agak banyak, ya, karena kami ada di beberapa daerah (Cirebon, Tegal, Banyumas,)” kata Narsidah kepada Jurnal Perempuan.
Terbatasnya peluang kerja bagi perempuan dan kesulitan ekonomi kerap selaras dengan rendahnya pendidikan. Kondisi ini yang lantas mendesak Narsidah bahkan saudara-saudara perempuannya pergi bekerja ke luar negeri. “Sementara kita bukan dari kalangan orang kaya yang dapat melanjutkan sekolah. Semua keluarga saya yang perempuan pergi ke luar negeri, kecuali ibu saya,” ungkap Narsidah.
“Saya dapat informasi dari kakak saya yang waktu itu masih di Taiwan. Tapi saya belum berminat ke luar negeri, karena saya masih bekerja menjahit. Tahun 1997 saat krisis, penghasilan berkurang dan saya berfikir untuk membiayai sekolah adik saya. Lantas saya dikenalkan dengan sponsor yang memberangkatkan kakak saya,” jelas Narsidah. Walhasil seluruh berkas keberangkatan Narsidah pun diproses oleh sponsor.
Sekitar Mei 1997 Narsidah bersama beberapa CTKI lain diantar sponsor ke penampungan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI.) Proses diawali dengan tes kesehatan (medical check up). Hasil tes menyatakan Narsidah lulus dan dapat mengisi formulir pernyataan tentang kesediaannya merawat orang jompo, merawat bayi, memegang babi, tidak takut dengan anjing, dan lain-lain. Kendati Narsidah keberatan dengan pernyataan tersebut, namun ia paksakan juga mengingat biaya hidup yang harus ia penuhi sebagai sebuah kewajiban membantu keluarganya.
Selesai penandatangan surat tersebut Narsidah pun tinggal di penampungan untuk proses selanjutnya. Selama tiga bulan berada di penampungan Narsidah mulai dengan bangun pagi pukul 04.30. Apabila terlambat, naik turun tangga lengkap dengan ember berisi pasir menjadi ganjarannya. Belum lagi rutinitas lain seperti membersihkan area penampungan. “Bisa dibilang kami sudah dijadikan pembantu di penampungan itu,” kata Narsidah. Selain itu Narsidah juga Belajar bahasa Inggris, melakukan praktek kerja menggunakan alat modern seperti mesin cuci, kompor gas dan vacuum cleaner. Bahkan praktek tentang cara memandikan bayi, membersihkan rumah -menata tempat tidur seperti di hotel-, memasak masakan Cina lengkap dengan cara menyajikannya, dan sebagainya.
Tepat di bulan Agustus 1997 untuk pertama kalinya Narsidah pergi ke luar negeri dan harus berpisah dengan keluarga. Tiba di bandara Changi, Narsidah tak langsung mendapat majikan. Ia pun harus menunggu majikan di kantor agen penyalur tenaga kerja di Singapura. Hingga keesokan hari, agen mengantarkan Narsidah ke tempat dimana Narsidah akan bekerja.
Selama rentang waktu satu tahun tiga bulan di Singapura, Narsidah bekerja tanpa hari libur. Kendati majikan dan keluarganya baik dan sangat komunikatif, tak urung Narsidah merasakan kelelahan yang teramat sangat. Hal ini yang kian hari kian memupuk rasa rindu Narsidah akan keluarga dan kampung halaman. Hingga Narsidah memutuskan untuk kembali ke Indonesia sebelum habis masa kontraknya.
***
Rencana Narsidah selanjutnya adalah berangkat bekerja ke Taiwan. “Saya sudah bayar 3 juta. Sudah masuk ke PT 3 bulan, namun prosesnya ngga jelas. Saya ngga dapat majikan. Di penampungan itu seluruh CTKI (Calon Tenaga Kerja Indonesia) dicampur, baik yang jurusan ke Malaysia, Singapur, Taiwan, Hongkong, dan lain-lain. Sehingga terlalu banyak. Dari seringnya bertemu dengan CTKI lain, saya ketemu CTKI yang telah lebih dari satu tahun ditampung dan belum diberangkatkan. Itu kan sangat memprihatinkan. Belum lagi kondisi PT (penampungan Pademangan Semesta Lestari, Jakarta Utara, tahun 2000-red) juga sangat memprihatinkan. (Yaitu) bekas gedung film dengan karpet bekas dan bantal terbatas. Jadi setiap malam kita berantem berebut bantal padahal sudah di kasih nama,” ungkap Narsidah.
Kondisi penampungan tersebut tak lebih baik dari penampungan sebelumnya. Narsidah harus bangun jam 04.00 hanya untuk antri mandi. “Karena airnya tidak cukup dan banyak cacingnya,” tutur Narsidah menerawang.
Kondisi tersebut mengguncang kesadaran Narsidah dan ketiga temannya untuk mengadakan perubahan. Lantas mereka (Narsidah dan ketiga temannya-red) mulai bergerilya menularkan pemahaman yang sama kepada seluruh CTKI di penampungan tersebut. “Ini (kondisi terkatung-katung-red) tidak bisa seperti ini tanpa kejelasan, kita mau ditampung terus sampai kapan? Sementara teman-teman ada yang sudah satu tahun lebih belum diterbangkan,” tegasnya dengan nada kesal. Narsidah melanjutkan, mereka yang sudah satu tahun lebih disembunyikan dengan alasan tengah mengikuti pelatihan di BLK (Balai Latihan Kerja). “Saya tahu saat mereka datang. Saya pikir mereka orang baru, ternyata sudah satu tahun lebih. Trus ada yang bilang kalau dia sudah satu tahun. Akhirnya kita takut,” kata Narsidah cemas.
Kecemasan Narsidah terus merangsak kesadaran untuk melawan rasa takutnya. “Gimana nasib kita ke depan?,” tutur Narsidah. Lebih jauh Narsidah menjelaskan bahwa dalam satu bulan terkadang tidak terjadi penerbangan (pemberangkatan CTKI-red). Hingga beberapa bulan baru ada penerbangan. Sementara CTKI yang didatangkan dari desa setiap hari terus berdatangan. “Jadi kita cuman ditampung-ditampung seperti barang,” tegasnya.
Narsidah dan ketiga temannya lantas menyusun ide dan strategi untuk mengusulkan kepada pimpinan penampungan. “Dua hari dua malam kita berunding. Dan di hari kedua kita ketahuan satpam. Akhirnya pagi-pagi kita sudah di sekap. Semua pintu di kunci (pintu depan, belakang, kamar mandi)” ungkap Narsidah. Walhasil sekitar 400 penghuni penampungan menjerit histeris. Hal ini membuat Narsidah dan ketiga temannya bingung mencari jalan keluar. “Tapi tiba-tiba satu dari teman kami punya ide. Gembokan itu dibakar sampai mumbul (melesat-red). “Akhirnya kami keluar serentak sambil histeris nangis-nangis. Tasnya ditenteng-tenteng. Wah, gimana nih!!!,” ujar Narsidah.
“Akhirnya kita sudah berhasil duduk di halaman sambil nangis. Hingga terdengar oleh tetangga sekitar. Gimana? Ada persoalan apa? Akhirnya sama warga ada yang telpon LSM. Dari situ teman LSM datang, mahasiswa Jayabaya juga datang untuk bantuin kita,” kenang Narsidah sembari memegang cangkir minumannya.
Hal tersebut mengajarkan Narsidah dan teman-temannya tentang negosiasi. Mereka mondar-mandir melakukan negosiasi dengan Meneg PP dan Menteri Tenaga Kerja. “Tidur di sembarang tempat sampai seminggu kemudian dokumen selesai. Semua uang dikembalikan, trus akhirnya kita pulang ke desa masing-masing,” katanya.
***
Episode perjuangan Narsidah dan ketiga temannya yang berasal dari Jawa Timur, Kendal dan Banyumas kian menggeliat. Mereka seringkali diundang dalam pelatihan-pelatihan pengorganisasian -manajemen organisasi dan paralegal. Hingga di tahun 2000 Narsidah mendapat kesempatan untuk datang ke Jakarta dan dikenalkan dengan 3 orang buruh migran dari Hongkong pada acara yang juga dihadiri Gus Dur. Dari ketiga buruh migran tersebut Narsidah terinspirasi untuk melakukan hal yang sama seperti mereka, bekerja sambil berorganisasi. “Enak, ya, bisa berorganisasi sambil kerja,” kata perempuan yang pernah berhasil mengelabuhi pihak terminal 3 bandara Soekarno Hatta dengan mengaku sebagai saudara tiri teman yang menjemputnya.
Selang beberapa minggu berikutnya Narsidah memutuskan untuk kembali bekerja ke Luar Negeri. “Saya cari sendiri PTnya, karena sudah dapat banyak pembekalan dari teman-teman itu,” kata Narsidah. Pengetahuan dan pengalaman telah menjadikan Narsidah kian berani memilih dan bertanya atas haknya. “Saya cari informasi sendiri. Saya punya buku peraturan-peraturan, buku PT se Indonesia di Jakarta. Jadi tinggal melihat dan bertanya kondisinya bagaimana. Hingga ketemu satu PT . Nur Afi Irmanjaya Bekasi,” ungkapnya.
Pengalamannya menjadi guru yang baik bagi Narsidah dan ketiga temannya. Narsidah hanya mau bertemu dengan direktur PJTKI untuk mencari tahu kondisi PJTKI tersebut. Pertanyaan tentang bagaimana proses keberangkatan hingga berapa banyak penerbangan dalam setiap bulan diajukan Narsidah kepada direktur PJTKI itu. “Karena saya sudah kenal LSM, kenal peraturan-peraturan, akhirnya mereka takut, dan kita diistimewakan,” ujarnya. Terkurung di penampungan memaksa Narsidah untuk kembali meneriakkan haknya. Dia mulai meminta kepada direktur PJTKI untuk memberikan satu libur dalam setiap minggunya. Upayanya diterima. “Hari minggu kami tidak belajar dan di kasih waktu untuk jalan-jalan sendiri-sendiri,” kata Narsidah sambil meneguk minumannya. “Termasuk hukuman juga berubah,” imbuhnya. Dan akhirnya Narsidah terbang lagi menuju Hongkong.
Sejak pertama kedatangannya di Hongkong, Narsidah mulai membangun mimpinya untuk bekerja dan berorganisasi. Setiap hari liburnya ia manfaatkan untuk terus menggapai mimpinya. Melalui jabatan divisi Advokasi di Serikat Buruh, Narsidah aktif melakukan sosialisasi tentang peraturan buruh migran dan informasi tentang peraturan buruh migran di Hongkong. Selain itu Narsidah juga seringkali dilibatkan dalam rapat dengan pemerintah Hongkong jika terjadi perubahan peraturan di sana (Hongkong-red) dan di Indonesia.
Hal lain yang dilakukannya adalah mendampingi kasus buruh migran. “Jadi walaupun kita lagi kerja, kalau ada teman yang minta bantuan karena diusir majikannya, dituduh mencuri atau bahkan dianiaya, anak itu akan cari bantuan atau shelter. Biasanya mereka hubungi saya. Dan kalau saya lagi ngga bisa keluar, saya akan hubungi teman yang bisa keluar,” kata Narsidah bersemangat. Narsidah menambahkan, kalau dia dianiaya oleh majikan dan mengharuskan dia kabur karena terancam, maka kami akan memberikan alamat shelter kami,” imbuhnya. Selanjutnya Narsidah menjelaskan, setelah di shelter, diurus ke Labour dan kemudian mereka dipanggil majikannya. Dipertemukan, dilakukan mediasi kalau ngga ketemu solusinya, kita lanjut ke pengadilan.
Narsidah sangat menikmati aktivitasnya di organisasi tersebut. Padahal setiap hari kasus yang menimpa rekannya, sesama buruh migran kian bertambah. Namun tak lantas menjadikan Narsidah menyerah. Hingga dua minggu menjelang kepulangannya ke tanah air, Narsidah masih harus menjemput salah satu teman buruh migran yang dianiaya. “Pokoknya mendapatkan berbagai kasus. Sejak sore saya cari anaknya. Dia lari, ga pake sandal lompat dari apartemen. Untungnya dia selamat. Badannya udah banyak luka. Dan kita dampingi laporan di kantor polisi dari sore sampai jam 04.00 pagi,” jelas Narsidah.
***
Pengalaman dan pengetahuan Narsidah selama melakukan advokasi di Hongkong tidak terhenti begitu saja. Ia justru kian asik melakukan advokasi setibanya di kampung halaman bersama teman-temannya di Seruni -paguyuban buruh migrant, keluarga dan masyarakat yang peduli terhadap persoalan buruh migran. Bahkan di awal pijakan kaki pertamanya di Jakarta, ia tak bisa langsung melaju ke kampung halaman karena seorang buruh migran membutuhkan bantuannya. “Saya kaget dan shock. Di sini kok kondisinya seperti ini,” ujar Narsidah. Ia menjelaskan, kalau di hongkong setiap laporan langsung diagendakan kapan akan dimediasi. “itu ontime,” imbuhnya. Kemudian akan dipanggil, ditawarkan kepada korban dan majikannya apakah akan dilanjutkan ke pengadilan atau tidak. Apabila iya, maka berkas-berkasnya langsung dilimpahkan ke pengadilan. “Jadi ngga ada kasus yang ditumpuk-tumpuk,” ungkap perempuan kelahiran Banyumas ini.
“Kalau di Indonesia biasanya laporan cuma diterima saja, terus diagendakan tapi tidak dijalankan. Misalnya akan dipertemukan dengan PJTKInya atau sponsornya, tapi ngga dijalankan. Dan ketika ketemu orangnya sudah ganti lagi. Akhirnya mereka akan bilang saya akan coba pelajari lagi kasusnya. Seperti itu terus, dan akhirnya tidak selesai-selesai. Istilahnya tenaga dalam sudah dikeluarkan saja belum tentu ada jaminan kasus selesai.” kata Narsidah gusar.
Narsidah menuturkan bahwa fungsi NGO di Hongkong hanya mendampingi kasusnya saja. Semuanya ditangani oleh pihak yang berwenang. Bahkan pihak tersebut sangat kooperatif dengan mereka sekalipun mereka (Narsidah dan teman-teman di Serikat Buruh-red) buruh migran. “Kalau di sini (Indoesia-red), ketika mereka tahu kalau misalkan saya hanya sebagai mantan buruh migran pasti dilihatnya sudah beda,” tegas perempuan tamatan SMP ini.
Perlakuan diskriminasi itu juga dialami Narsidah dalam melakukan advokasi di daerahnya. “Mungkin mereka melihat siapa kami, hanya mantan buruh migran, mereka ngga begitu nanggepin, ngga begitu peduli. Tapi ketika mereka melihat kami itu teman-temannya siapa. Misalkan kita bisa bekerjasama dengan NGO yang lain. Seperti di Jakarta juga punya banyak teman-teman NGO. Mereka mulai menghargai siapa kita,” tegas Narsidah. Lantas, bagaimana perlindungan pemerintah Hongkong terhadap buruh migran?
Narsidah mengatakan, Hongkong menjadi salah satu negara yang memberikan perlindungan terbaik dibanding negara lain. Tapi tidak jarang pula yang mendapatkan penaganiayaan, penipuan dan beragam masalah lain. Persoalan-persoalan ini datang justru dari Indonesia. Lebih jauh Narsidah menjelaskan, seperti gaji underpaid yang menurutnya adalah settingan dari Indonesia. Peranan agen di Hongkong yang mayoritas adalah orang Indonesia terkadang justru merugikan buruh migran. “Mereka (agen) ngajarin majikan (orang Hongkong-red) sehingga mereka (majikan) jadi ikut-ikutan jahat. Misalnya, ini belum punya pengalaman jadi boleh dibayar underpaid. Yang penting rahasia ini jangan sampai diketahui pihak luar, kita saling menjaga. Akhirnya kan mereka yang orang hongkong sebenarnya patuh dalam peraturan, takut juga dalam sanksi-sanksi akhirnya terbujuk rayu oleh agen. Jadi susahnya di situ,” keluh Narsidah.
Perjuangan Narsidah bukanlah tanpa pengalaman di setiap perjalanan hidupnya. Kendati Narsidah bukanlah korban kekerasan dari majikan, namun kemiskinan menjadikannya lebih tangguh dan peduli atas persoalan kaumnya. Kepekaannya mengajarkan kepada kita bahwa kepedulian adalah ruang terindah dalam sisi kemanusiaan. Teruslah berjuang, Narsidah!!**
Nur Azizah
KOMENTAR MASUK:
Bagian dari kehidupan BMI HK,
bisa berbagi dengan sisi lain kehidupan BMI dari Taiwan?
Mungkin jalan cerita berbeda, tapi saya yakin tema nya sama,
memperjuangkan nasib sendiri yang menjadi buruh di luar negeri.
salam dari taiwan, dalam dunia buruh migran.
Komentar oleh
on 06/16 at 05:32 AM
Terimakasih banyak Kepada Mbak Nur Azizah, yang sudah sudi menulis pengalaman saya, yang hanya seorang mantan buruh migran.
saya hanya berbagi pengalaman, semoga pengalaman ini ada sisi baik yang bisa diambil. kususnya bagi para buruh migran jangan takut untuk menuntut hak sendiri, dan jika sudah mendapatkan hakmu bantulah teman-temanmu agar mendapatkan hak yang sama.
Salam
Narsidah
Komentar oleh
on 06/26 at 03:02 PM
Setali tiga uang dengan yang terjadi di Batam. Kasus-kasus semacam itu sama dialami oleh Narsidah-Narsidah lain di Batam. Kita berharap usaha-usaha dan kerja-kerja dengan daya tahan tinggilah yang akan mengeliminir kasus-kasus serupa dapat terjadi kemudian hari. Mbak Narsidah, kamu tidak sendirian.
Salam dan M e r d e k a !!!
Komentar oleh
on 08/15 at 12:30 PM
Lagi2, tentang buruh migrant. Salut untuk mbak Narsidah. Sekedar tanya, perlindungan BMI itu apa hanya khusus di Hongkong yah? apa di Malaysia tidak ada?
Komentar oleh Ana
on 08/24 at 06:59 AM
Meningkatnya permintaan jumlah tenaga kerja indonesia sebenarnya mencerminkan krisis global hari ini, dimana terjadi kesenjangan antara Negara pertama misalnya HK, china, amerika sebagai Negara sebagai Negara tujuan dan Indonesia sebagai pemasok buruh murah.
Pengalaman Narsidah juga dialami mayoritas 6 juta buruh migrant kita,dan menurut saya kesadaran yang paling massif dari perubahan social berasal dari buruh migrant itu sendiri dan syaratnya adalah sebuah alat organisasi massa yang tepat untuk sebuah perjuangan kolektif yang kuat , dan tidak bisa mengantungkan diri pada NGO yang framework nya hanya kasus saja
Dan saya tidak sepakat dikatakan bahwa hongkong merupakan Negara yang baik, karena sebenarnya mereka mempunyai kepentingan atas buruh murah dari Indonesia, karena keberadaan buruh migrant Indonesia sangat membantu, jika tidak ada pembantu maka pekerjaan mereka di kantor harus terganggu dan secara ekonomi akan mengurangi pendapatan keluarga mereka
Dan jika saat ini ada sedikit kemenangan di HK, itu tidak terlepas dari perjuangan panjang organisasi buruh migrant disana, bukan karena pemberian Cuma cuam oleh warga hongkong,
Komentar oleh
on 08/31 at 12:51 PM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|