|
Wednesday, 03 March 2010
Kegiatan •
Talkshow Saatnya Bicara Soal Laki-laki
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Menjadi laki-laki yang melek gender dan kemudian menempakannya pada kehidupan sehari-hari, ternyata menjadi tantangan tersendiri. Itulah yang dialami oleh KH. Husein Muhammad, dari Komnas Perempuan yang juga pendiri Fahmina Institute. Ia pernah disidang oleh 300 orang karena pemikirannya yang membela kaum perempuan. Bahkan lembaga Fahmina Institute yang didirikannya turut menjadi sasaran amuk masa yang merasa, pemahaman agama yang mengkritisi ketabuan dan batasan-batasan perempuan dalam ajaran Islam adalah sebuah penyimpangan.
KH. Husein Muhammad, Chamim Ilyas, Theresia Pardede dan Melani Subono, di dapuk menjadi narasumber dalam talkshow Saatnya Bicara Soal Laki-laki, Kamis (25/2) malam di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta.
Chamim Ilyas memandang, konsep patriarki bukan saja membuat laki-laki menjadi superior tetapi juga tidak memberikan kesempatan kepada perempuan karir untuk maju. Ia mengisahkan tentang para dosen perempuan yang telah berkeluarga yang jika di rumah tidak seperti dosen laki-laki. Dosen laki-laki bila berada di rumah mereka sibuk membaca dan didepan komputer. Sementara para dosen perempuan, mereka sibuk mondar-mandir melakukan pekerjaan domestik. Hal tersebut berakibat pada update diri dosen perempuan terhambat dan berujung pada karirnya.
Tak hanya persoalan karir yang menjadi perhatian Chamim, untuk urusan seks Chamim pun berpendapat, perempuan pada umumnya dikonstruksi ready use; sedang mood atau tidak dan dalam kondisi apapun bila suaminya ingin melakukan hubungan badan, maka ia harus menurut. Karena bila tidak, beragam stigma dan gelar untuk istri yang menolak ajakan suami -terutama stigma yang mengatasnamakan agama- siap melekat pada perempuan.
Lebih jauh Chamim, ketidakadilan terhadap perempuan terkadang mengatasnamakan agama, terutama untuk hal poligami, dimana agama menjadi alasan pembenar perilaku poligami kaum laki-laki. Menurutnya perilaku poligami saat ini bukan sebuah perbuatan mulia, tetapi sebaliknya menjadi perilaku yang mungkar.
Masyarakat acapkali menempatkan laki-laki lebih berhakatas segala kemudahan, termasuk pandangan bahwa laki-laki lebih super dibanding perempuan. Theresia E. Pardede anggota DPR RI membantah anggapan tersebut. Menurutnya, laki-laki dan perempuan sesungguhnya sama dan saling membutuhkan, hanya perbedaan organ tubuh saja yang membedakannya. Sementara dalam hal peran, There mengakui, perempuan dan laki-laki sama-sama bisa mengerjakannya.
Berbeda dengan There, Melani Subono mengungkapkan, bukan hanya laki-laki yang dikonstruksi menjadi maskulin tapi perempuan juga menjadi pendukung konstruksi dengan menerima konstruksi itu dengan ragam hal. Menurutnya, salah satunya dengan menggemari sinetron-sinetron yang melankolis dan mengkonstruksi perempuan sebagai pihak yang tidak berdaya.
Namun, Melani menambahkan, tidak semua laki-laki superior. Termasuk pengalamannya dengan teman-teman laki-laki, termasuk suaminya yang tak jarang mengambil peran domestik dalam keseharian mereka.
Diskusi menghasilkan sikap yang beragam dari para peserta. Mulai dari yang menyatakan dukungan sampai ada sebagian yang belum setuju dengan konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Alasan budaya di Indonesia menjadi argumen mereka.
Kontradiksi tersebut menambah wacana beragam bagi gerakan laki-laki yang mengusung kesetaraan dan keadilan sebagai prinsip hidup. Tantangannya tak hanya stigma negatif yang akan melekat pada mereka (laki-laki), pro kontra yang masih tetap lekat seringkali menjadi kendala utama. Karena wacana laki-laki yang memberikan ruang untuk perempuan akan menjadi ancaman bagi mereka, laki-laki yang masih lekat dengan konstruksi patriarki.
Talkshow yang selenggarakan di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, digagas oleh Yayasan Jurnal Perempuan bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan didukung oleh Sahabat Jurnal Perempuan, berlangsung hingga pukul 21.15 WIB.
Wawan Suwandi
KOMENTAR MASUK:
pengin ngadain acara serupa di daerh kapan jurnal perempuan mau datang ?
Komentar oleh
on 02/10 at 12:20 PM
Hallo Dewi, ayo kamu menjadi salahsatu orang yang turut membangun embrio bangkitnya gerakan laki-laki sadar gender atau gampangnya laki-laki yang ngertiin masalah perempuan dan bersama-sama perempuan melawan ketidakadilan terhadap perempuan.
Coba kumpulin temen2 atau orang2 yg se-ide dengan kamu, lalu buat acara serupa. Kalau butuh orang-orang yg kamu anggap layak menjadi narasumber kamu bisa kontak Yayasan Jurnal Perempuan atau bertandang ke Facebook “laki-laki baru”.
Kami tunggu kabar selanjutnya.
Komentar oleh Jundi
on 02/15 at 06:29 PM
Halaman ke 1 dari 1 halaman
|